KINERJA DAN PRODUKTIVITAS
by arofah.com
BAB
I
KINERJA
DAN PRODUKTIVITAS
1.1 Kinerja
1.1.1
Definisi Kinerja
Bernardin dan Russel, (2000) menyatakan,“Performance is defined as the
record of outcomes produced on a specified job function or activity during a
time period“.
Berdasarkan
pendapat Bernardin and Russel, kinerja cenderung dilihat sebagai hasil dari
suatu proses pekerjaan yang pengukurannya dilakukan dalam kurun waktu tertentu.
Sedangkan menurut Ilgen and Schneider (Williams, 2002: 94) menyatakan “Performance is what
person or system does”. Hampir sama dengan pendapat Mohrman (Williams, 2002:
94) menyatakan “A performance
consists of a performer engaging in behavior in a situation to achieve results”
Dari kedua pendapat diatas,
dapat kita lihat bahwa kinerja dilihat sebagai suatu proses bagaimana sesuatu
dilaksanakan. Sehingga dalam pengukuran kinerja dilihat dari baik atau tidaknya aktifitas tertentu untuk mencapai hasil yang
diinginkan.
Menurut Brumbrach (Armstrong, 1998: 16),
“Performance means behaviours and results.
Behaviours emanate from the performer and transform performance from
abstraction to action. Not just the instruments for results, behaviours are
also outcomes in their own right – the product of mental and physical effort
applied to tasks – and can be judged apart from results”.
Selain
menekankan pada hasil, Brumbrach juga menambahkan perilaku sebagai bagian dari
kerja karena perilaku merupakan hal penting karena akan berpengaruh terhadap
hasil kerja seorang pegawai.
Menurut Ilyas
(2001), “kinerja adalah penampilan hasil karya
personel baik kuantitas maupun kualitas dalam suatu organisasi. Kinerja dapat
merupakan penampilan individu maupun kerja kelompok personel. Penampilan hasil karya tidak
terbatas kepada personel yang memangku jabatan fungsional maupun struktural,
tetapi juga kepada keseluruhan jajaran personel di dalam organisasi.”
Menurut Berry dan
Houston dalam Kasim (1993), “kinerja merupakan
kombinasi antara kemampuan dan usaha untuk menghasilkan apa yang dikerjakan.
Supaya menghasilkan kinerja yang baik seseorang harus memiliki kemampuan,
kemauan usaha agar serta setiap kegiatan yang dilaksanakan tidak mengalami
hambatan yang berat dalam lingkungannya.”
Kinerja dapat
dibedakan antara kinerja individu dan kinerja kelompok.Kinerja individu adalah tingkat pencapaian atau hasil kerja
seseorang dari sasaran yang harus dicapai atau tugas yang harus dilaksanakan
dalam kurun waktu tertentu. Sedangkan kinerja kelompok/tim adalah tingkat pencapaian sasaran atau tujuan yang harus
dicapai oleh organisasi tersebut dalam kurun waktu tertentu.
Dari beberapa uraian
tersebut, dapat dikemukakan bahwa kinerja adalah suatu hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang
dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggungjawab masing-masing,
dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
1.1.2
Manfaat Memahami Teori
Kinerja
Dari teori
kinerja yang telah dipaparkan, ada beberapa manfaat yang diperoleh dari mempelajari
teori kinerja antara lain :
a. Dapat dijadikan sebagai acuan dalam memberikan
penilaian dan pengukuran kinerja. Hasil penilaian kinerja sangat penting dalam kaitannya dengan
pengambilan keputusan tentang berbagai hal seperti identifikasi kebutuhan
program pendidikan dan pelatihan, rekrutmen, seleksi, program pengenalan,
penempatan, promosi, sistem balas jasa, serta berbagai aspek lain dalam proses
manajemen sumber daya manusia. Berdasarkan kegunaan tersebut, maka penilaian
yang baik harus dilakukan secara formal berdasarkan serangkaian kriteria yang
ditetapkan secara rasional serta diterapkan secara objektif serta didokumentasikan
secara sistematik.
b. Mengetahui strategi dan upaya untuk meningkatkan kinerja individu
maupun kinerja tim/kelompok. Untuk
memperoleh hasil kinerja yang maksimal maka harus mengetahui upaya dan strategi
untuk meningkatkan kinerja. Upaya dan strategi ada berbagai macam. Strategi
lebih bersifat kondisional sesuai dengan kondisi kelompok/individu/ perusahaan.
c. Mengetahui faktor-faktor yang dapat meningkatkan
maupun menurunkan hasil kinerja. Merupakan hal yang sangat penting memperhatikan faktor
yang kemungkinan bisa mempengaruhi kinerja. Dalam proses kinerja, faktor yang dapat
menurunkan kinerja harus diminimalkan atau diperbaiki agar tidak menjadi suatu
hambatan saat dalam proses kinerja. Contoh faktor yang dapat menurunkan hasil
kinerja adalah fasilitas tempat kerja yang kurang memadai. Hal ini akan
menghambat hasil kinerja yang dilakukan, sehingga perlu adanya perbaikan pada
faktor ini. Sebaliknya, faktor-faktor yang dapat meningkatkan kinerja harus
selalu dilakukan dan diperhatikan untuk memaksimalkan hasil dari kinerja.
Contoh faktor yang dapat meningkatkan hasil kinerja adalah upah kerja yang
sesuai, kesehatan dan keselamatan pekerja yang baik dan lain-lain.
1.1.3
Faktor – Faktor Yang
Mempengaruhi Kinerja Kelompok/
Tim
Kebanyakan
model dari organisasi masa depan yang didasarkan pada kerja tim melebihi
individu sebagai unit kinerja utama dalam suatu perusahaan. Jelas bahwa
perubahan dalam dunia kerja seperti perkembangan teknologi informasi yang
semakin maju, globalisasi, persaingan pasar yang berat, pengetahuan kerja, dan
pemberdayaan sumber daya manusia akan sangat berarti sekali terhadap dunia tempat kerja di masa yang akan datang. Tantangan dalam dunia ekonomi terbesar yang banyak dihadapi oleh organisasi–organisasi sekarang ini yaitu lebih kepada penempatan premi yang lebih besar dalam kinerja team secara efektif.
Sayangnya, banyak organisasi menemukan bahwa tim bukanlah satu–satunya penentu dari keberhasilan suatu organisasi.
Dikutip
dalam buku Todd Harris yang berjudul “ Work Team: Internal and External Influences
on Performance” bahwa:
“In fact, academics and
management consultants often cite a “50% failure rate” for teams – in that half
of work teams fail to achieve their goals (Todd
Harris, 2008).”
Sudah
terbukti bahwa para akedemisi dan para konsultan manajer sering mengutip “
tingkat kegagalan sebesar 50%” dalam suatu tim kerja dimana setengahnya gagal
dalam mencapai tujuan mereka.
Oleh
karena itu, untuk menghindari kegagalan tersebut, tim harus mengatasi
rintangan-rintangan yang dihadapi. Menurut Todd Harris dalam bukunya yang
berjudul : “ Work Team: Internal and External Influences on Performance” menyatakan bahwa dalam menghadap irintangan–rintangan dalam mencapai suatu tujuan tim, ada tiga usaha
yang dapat dilakukan,
yaitu
mengerahkan usaha yang cukup untuk menyelesaikan tugas pada tingkatan kinerja yang dapat diterima, memiliki keterampilan dan pengetahuan
yang memadai sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diberikan, dan menggunakan strategi kinerja tugas yang sesuai dengan pekerjaan.
Ada faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja suatu tim
baik internal maupun eksternal. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja tim tersebut selanjutnya akan dijelaskan
di bawah
ini:
1.
Faktor Internal
Tim
a.
Struktur Tugas
Tugas tim harus jelas dan konsisten dengan tujuan tim yang telah ditetapkan sebelumnya dimana tujuan tim tersebut harus sesuai juga dengan tujuan organisasi tersebut. Setiap anggota tim harus dapat berbagi tugas dan tanggung jawab dalam tim serta mempelajari sejauh mana tim melakukannya dengan baik dan benar.
Pencarian hasil dari tim juga harus jelas dipahami oleh setiap anggota–anggotanya.
b.
Susunan Tim
Sebuah tim harus benar–benar dikelola dengan baik.
Suatu
pekerjaan yang diberikan
atau dibebankan kepada tim harus sesuai dengan ukuran kemampuan dan kesanggupannya.
Setiap
anggota dalam tim juga harus memiliki keahlian yang tetap sehingga satu sama
lain dapat bekerja sama demi menyelesaikan suatu tugas atau tanggung jawab yang diberikan. Dalam kaitannya dengan hubungan
interpersonal antar anggota tim, setiap anggota perlu memiliki manajemen interpersonal sehingga hubungan antar anggotanya dapat berjalan dengan harmonis.
Latar
belakang dari setiap individu dalam tim juga menentukan keberhasilan tim dalam menyelesaikan tugas. Dengan mengetahui latar belakang satu sama lain, maka para anggota tim dapat saling belajar dari latar belakang atau pengalaman anggota lainnya dalam tim.
c.
Norma Inti
Suatu harapan yang nantinya akan diterima dalam suatu tim dan mengikat perilaku dari setiap anggota tim itu sendiri sebaiknya dibentuk sejak awal terbentuknya suatu tim dalam organisasi.
Norma tersebut dapat dituangkan dalam suatu kebijakan atau visi dari tim atau organisasi sehingga dapat digunakan sebagai bahan evaluasi diri dalam tim.
d.
Pembuatan Keputusan
Suatu tim harus memiliki proses yang tepat dan benar dalam pembuatan suatu keputusan
agar nantinya keputusan tersebut tidak merugikan tim maupun perusahaan. Pembuatan keputusan tersebut juga perlu memikirkan efek jangka panjang yang akan terjadi.
2.
Faktor Eksternal Tim
a.
Sistem Penghargaan
Suatu
perusahaan hendaknya memberikan pengakuan dan kompensasi sesuai dengan kinerja
tim yang telah dilaksanakan sebagai salah satu upaya dari system penghargaan
dalam perusahaan. Dengan cara yang seperti itu, maka kinerja dari suatu tim
tersebut akan berjalan secara efisien dan efektif sesuai dengan yang diharapkan
oleh perusahaan.
Penghargaan (reward) tersebut dapat diberikan melalui
individu yang bersangkutan atau secara umum kepada tim yang telah melakukan
kinerja sesuai dengan yang diharapkan. Semuanya itu tergantung dari kebijakan
perusahaan yang dibuat sebelumnya.
Selain itu,
adanya sistem penghargaan dalam perusahaan hendaknya juga dapat memicu dan
mendorong perilaku kerjasama antar anggota tim, sehingga tercapailah suatu
tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Misalnya, meberikan bonus kepada
tim apabila tim berhasil mencapai target
yang terlah ditentukan pada periode waktu tertentu.
b.
Sistem Pendidikan
Pendidikan
atau keterampilan sangatlah diperlukan dalam tim agar tim dapat mencapai tujuan
sesuai dengan yang diharapkan. Apabila dirasa dalam tim belum dipenuhinya suatu
keterampilan atau pengetahuan yang memadai, maka hendaknya perusahaan
memberikan bantuan berupa pelatihan atau bantuan teknis bagi setiap anggotanya
terhadap setiap aspek pekerjaan yang dilakukannya.
c.
Sistem Informasi
Dalam
mencapai kinerja tim yang efisien dan efektif, hendaknya setiap tim memiliki
kemampuan dalam mengakses data, alat, dan sumber daya lainnya yang menunjang
dalam pencapaian tujuan organisasi.
d.
Budaya Organisasi
Kinerja tim
dapat berjalan secara efisien dan efektif tergantung pada budaya yang dianut
dalam suatu organisasi. Suatu organisasai yang baik hendaknya menerapkan budaya
kerjasama dalam tim agar tim dapat melakukan kinerjanya dengan efisien dan
efektif. Budaya yang hanya mempromosikan atau mengakui prestasi individu semata
akan mengakibatkan kecemburuan dalam tim yang pada akhirnya akan menyebabkan
kegagalan dalam organisasi.
1.1.4
Faktor – Faktor Yang
Mempengaruhi Kinerja Individu
Menurut Robert L.
Mathis dan John H. Jackson dalam bukunya yang berjudul “HRM: Organization/ Individual Relations and Retention” (2005:156)
menyatakan bahwa terdapat 3 faktor penting yang mempengaruhi kinerja individu.
“The three major
factors that affect how a given individual performs are: (1) individual ability
to do the work, (2) effort expended, and (3) organizational support” (Robert dan John, 2005:156)
Dijelaskan
dalam pernyataan tersebut bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja dari individu
meliputi kemampuan individu dalam melakukan suatu pekerjaan, tingkat usaha yang
dikeluarkan, dan dukungan organisasi.
Gambar 1: Komponen dari Kinerja Individu
Dijelaskan
pula dalam bagan konsep di atas bahwa komponen faktor yang mencakup dalam
kemampuan individu meliputi bakat yang dimiliki oleh individu, minat terhadap
suatu pekerjaan tersebut, dan karakteristik personal yang dimiliki oleh setiap
individu. Kemudian dalam komponen faktor
usaha yang dikeluarkan, ada motivasi, etika bekerja, kehadiran atau pergantian
pekerja dalam perusahaan, dan desain pekerjaan (job design). Dalam faktor dukungan organisasi (Organizational Support) terdapat komponen-komponen yang secara
langsung akan mempengaruhi kinerja dari individu, mencakup pelatihan dan
pengembangan, peralatan dan teknologi, standar kinerja, dan manajemen dan rekan
kerja. Semuanya itu mempengaruhi kinerja individu dalam melakukan suatu
pekerjaan.
1.1.5
Pengukuran Kinerja
“Penilaian kinerja adalah sebuah gambaran atau deskripsi yang
sistematis tentang kekuatan dan kelemahan yang terkait dari seseorang atau suatu
kelompok” (Cascio, 1992:267).
Bernardin
dan Russel (dalam Martoyo, 2000) mengajukan enam kriteria primer yang dapat
digunakan untuk mengukur kinerja sebagai berikut :
1. Quality
Merupakan tingkat sejauh mana proses atau
hasil pelaksanaan kegiatan mendekati kesempurnaan atau mendekati tujuan yang
diharapkan.
2.
Quantity
Merupakan jumlah yang dihasilkan misalnya
: jumlah rupiah, jumlah unit, jumlah siklus kegiatan yang diselesaikan.
3.
Timeliness
Merupakan tingkat sejauh mana suatu
kegiatan diselesaikan pada waktu yang dikehendaki dengan memperhatikan
koordinasi output lain serta waktu yang tersedia untuk kegiatan yang lain.
4.
Cost
Effective
Yaitu tingkat sejauh mana penerapan sumber
daya manusia, keuangan, teknologi, material dimaksimalkan untuk mencapai hasil
tertinggi atau pengurangan kerugian dari setiap unit pengguna sumber daya.
5.
Need
for Supervisor
Merupakan tingkat sejauh mana seorang
pekerja dapat melaksanakan suatu fungsi pekerjaan tanpa memerlukan pengawasan
seorang supervisor untuk mencegah tindakan yang kurang diinginkan.
6. Interpersonal Import
Merupakan tingkat
sejauh mana karyawan memelihara harga diri, nama baik dan kerja sama di antara
rekan kerja dan bawahan.
1.1.5.1 Pengukuran
Kinerja Individu
Menurut
Bernardin dan Russel (1993:379),Pengukuran kinerja individu adalah“A way of measuring the contribution of
individuals to their organization“.
Jadi pengukuran kinerja individu dapat digunakan
untuk melihat sampai dimana seorang individu dalam kelompok dapat menjalankan
tugas yang diberikan kepadanya untuk mencapai tujuan kelompok yang telah
ditentukan.
1.1.5.2 Pengukuran
Kinerja Kelompok
Menurut Keban (2004:183), Penilaian kinerja kelompok adalah penggambaran
sampai seberapa jauh kelompok telah melaksanakan tugas pokoknya sehingga dapat
memberikan hasil yang telah ditetapkan oleh kelompok atau instansi.
Penilaian kerja kelompok dapat dilakukan melalui self assasment yaitu penilaian kinerja yang dilakukan oleh pihak
intern kelompok tanpa campur tangan pihak lain ataupun melalui bantuan pihak
lain diluar kelompok seperti tim standarisasi.
1.1.6
Strategi Meningkatkan Kinerja
Seperti
yang dikutip dari
sumber http://rikaevilyn.blog.ugm.ac.id/about/meningkatkan-kinerja-karyawan/, ada 24 hal praktis yang dapat diterapkan untuk
meningkatkan suatu kinerja karyawan:
1.
Membuat pola pikir yang modern
Tinggalkan
cara lama dalam menyelesaikan pekerjaan, seperti mengancam, membujuk,
mengintimidasi, menyalahkan, menyerang keperibadian dan sikap karyawan. Gunakan
pola pikir modern agar kerberhasilan karyawan lebih optimal dengan memberikan
panutan dalam waktu dan usaha, membagi tanggung jawab dengan komunikasi dua
arah dan menemukan kebijaksanaan karyawan dengan memanfaatkan pengetahuan, keahlian
dan pengalamannya.
2.
Mengenali manfaat
Manajer
biasanya melompati proses manajemen kinerja karena belum mengerti
manfaatnya. Padahal manajemen kinerja dapat digunakan untuk memastikan
bahwa setiap pekerjaan karyawan berkontribusi bagi sasaran kelompok kerja,
sehingga dapat mengurangi pengawasan, meningkatkan produktivitas dan tindakan
mendokumentasikan masalah maupun penyelesaiannya.
3.
Mengelola kinerja
Penting
sekali untuk merencanakan kinerja dan mengkomunikasikannya berdasarkan
pengamatan dan pengumpulan data yang dimiliki termasuk rintangan dan hambatan
yang telah dan akan dihadapi.
4.
Bekerja bersama karyawan
Jangan
biarkan karyawan merasa diperintah dalam bekerja. Anggaplah karyawan sebagai
kontributor sejajar dalam proses manajemen kinerja karena mereka adalah peserta
aktif dan antusias dalam menjalankan proses kerja sesuai dengan ketentuan yang
diinformasikan kepadanya.
5.
Rencanakan secara tepat dengan
sasaran jelas
Perencanaan
yang tepat dan jelas akan membantu karyawan dalam memahami prioritas pekerjaan
penting dan kurang penting.
6.
Satukan sasaran dengan karyawan
Akan
sia-sia seluruh proses manajemen kinerja apabila misi kelompok tidak
dihubungkan dengan tanggung jawab karyawan. Sebaliknya, pencapaian misi
kelompok akan memotivasi karyawan untuk terus-menerus melakukan peningkatan dan
di sisi lain, karyawan merasakan kepuasan dalam bekerja.
7.
Tentukan insentif kinerja
Insentif
yang berbeda kepada tiap performa karyawan yang berbeda dapat memacu kinerja
karyawan menjadi lebih baik. Bentuk insentif dapat berupa bonus, kesempatan
mendapat pelatihan, promosi, kenaikan upah dan lain-lain.
8.
Jadilah orang yang mudah ditemui
Komunikasi
dua arah dapat mengurangi masalah dan membantu penyelesaian masalah dengan
lebih cepat dan tepat sasaran.
9.
Fokuslah pada komunikasi
Selain
itu, komunikasi membantu dalam membangun relasi dan motivasi bagi karyawan
untuk menciptakan kerja sama yang harmonis.
10.
Lakukan tatap muka
Perkembangan
teknologi informasi memang bermanfaat untuk mempercepat dan mempermudah proses
pekerjaan, namun jangan sampai interaksi dengan karyawan menjadi berkurang
apalagi hilang.
11.
Hindarkan resiko pe(me)ringkat-an
Pemberian
peringkat tidak selalu berhubungan dengan perilaku spesifik sehingga akan
bersifat subjektif. Oleh karena itu, manajer perlu menjelaskan arti dan memberi
pemahaman dari setiap peringkat sebelum pemberian peringkat dilakukan.
12.
Jangan lakukan penggolongan
Penggolongan
akan menberikan pengaruh baik dan buruk secara bersamaan kepada karyawan.
Sebagian karyawan akan bekerja lebih baik dan sebagian lainnya akan menjadi
lebih buruk. Untuk itu perlu menambahkan berbagai unsur dalam penggolongan
karywan agar tetap memberikan efek yang positif bagi semua karyawan.
13.
Persiapkan penilaian
Penilaian
kinerja karyawan harus dibuat sedetail mungkin agar hasilnya dapat
membangkitkan motivasi dan semangat karyawan.
14.
Awali tinjauan secara benar
Walau bagaimanapun,
penilaian kinerja karyawan merupakan hal yang tidak menyenangkan. Oleh karena
itu, cinpatakan suasana nyaman, aman, dan pemahaman tentang pentingnya
penilaian karywan bagi organisasi.
15.
Kenali sebab
Manajer
perlu mengenali penyebab kinerja karyawan yang tidak maksimal untuk
diselesaikan masalahnya dan dioptimalkan kembali pekerjaanya.
16.
Akui keberhasilan
Penghargaan
atas keberhasilan karyawan perlu diperhatikan, diakui, dan dihargai.
17.
Gunakan komunikasi yang
kooperatif
Bahasa
yang kooperatif akan mengurangi konflik dan perasaan bersalah karyawan dalam
melakukan pekerjaan.
18.
Berfokuslah pada perilaku dan
hasil
Perilaku
karyawan tidak selalu mempengaruhi kinerja karyawan, arahkanlah perilaku
karyawan kepada kinerja dan produktivitas.
19.
Perjelas kinerja
Umpan
balik perlu diberikan kepada karywan agar karyawan tersebut mengetahui
saat-saat kinerjanya baik dan kemudian meningkatknnya.
20.
Perlakukan konflik dengan apik
Jangan
menggunakan kekuasaan dalam menyelesaikan konflik dengan bawahan, namun,
identifikasilah masalah agar proses pemecahan masalah dapat cepat selesai
dan menemukan jalan keluar yang baik.
21.
Gunakan disiplin bertahap
Mendisiplinkan
karyawan berarti membuat karyawan bertanggung jawab terhadap segala tindakannya
dengan menerapkan konsekuansi secara jelas.
22.
Kinerja dokumen
Dokumentasi
kinerja karyawan perlu didokumentasikan baik catatan permasalahan kerja maupun
keberhasilannya untuk bahan kajian dan perbaikan bagi karyawan dan atasan.
23.
Kembangkan karyawan
Kembangkanlah
karyawan sesuai keahliannya karena keahlian di tempat bekerjapun terus-menerus
mengalami perubahan.
24.
Tingkatkan terus sistem kerja
Sistem
kerja perlu ditingkatkan dan dimodifikasi sesuai dengan tantangan yang dihadapi
selama pekerjaan dilaksanakan.
1.2 Produktivitas
1.2.1
Definisi Produktivitas
Produktivitas
secara umum diartikan sebagai hubungan antara keluaran (barang-barang atau
jasa) dengan masukan (tenaga kerja, bahan, uang). Produktivitas merupakan
ukuran efisiensi produktif, yakni suatu perbandingan antara hasil keluaran dan
masukan. Dalam hal ini, masukan dibatasi dengan tenaga kerja, sedangkan
keluaran diukur dalam satuan fisik, bentuk, dan nilai.
Aigner
(dalam Hidayat, 1993), mengatakan bahwa filsafat mengenai produktivitas telah
ada sejak awal peradaban manusia, karena makna produktivitas adalah keinginan
dan upaya manusia untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan di segala
bidang. Dengan kata lain, filsafat produktivitas adalah keinginan manusia untuk
membuat hari ini lebih baik dari hari kemarin dan membuat hari esok lebih baik
dari hari ini.
Produktivitas
berbeda dengan produksi. Produksimengacu padapeningkatan
outputselama periodewaktu tertentu dan sebagai bilangan yang bukan rasio,
sedangkan produktivitasberkaitan denganrasiooutput keinput.
"Productivity
is the quantitative relationship between what we produce and the resources we
use" (Currie, 1972).
"The volume of output which is achieved in a given period in
relationship to the sum of the direct and indirect effort expended in its
production" (Smith & Beeching, 1968).
Dari
pendapat ahli di atas dapat diketahui bahwa produktivitas adalah hubungankuantitatif antara sesuatu yang
diproduksi dengan sumber daya yang digunakan. Sedangkan
produksi adalah volume outputyangdicapaidalam suatu periode tertentudengan jumlahusahalangsung
dan tidak langsung yang dikeluarkandalam produksi.
George J. Washinis (Rusli Syarif, 1991:1),
berpendapat bahwa produktivitas mencakup dua konsep dasar yaitu daya guna dan
hasil guna. Daya guna menggambarkan tingkat sumber daya manusia, dana, dan alam
yang diperlukan untuk mengusahakan hasil tertentu, sedangkan hasil guna
menggambarkan akibat dan kualitas dari hasil yang diusahakan.
Webster (dalam Yatman dan
Abidin,1991) memberikan batasan tentang produktivitas, yaitu keseluruhan fisik
yang dibagi dengan unit dari usaha produksi, tingkat keefektifan dari manajer
industri di dalam penggunaan aktivitas untuk produksi, dan keefektifan dalam
menggunakan tenaga kerja dan peralatan. Dalam setiap kegiatan produksi, seluruh
sumber daya mempunyai peran yang dapat menentukan tingkat produktivitas,
sehingga sumber daya tersebut perlu dikelola dan diatur dengan baik.
Mengacu pada beberapa definisi yang
telah dikemukakan di atas, bahwa produktivitas adalah hubungan perbandingan
antara output (hasil yang diproduksi)
dengan input (masukan / keseluruhan
sumber daya) yang digunakan. Dengan demikian produktivitas merupakan salah satu
komponen yang harus dimiliki oleh setiap perusahaan untuk mencapai tujuan
organisasi dan meningkatkan efisensi.
1.2.1.1 Definisi
Produktivitas Individu
Laehan
dan Wexley (dalam Sedarmayanti, 2001:65) mengungkapkan bahwa produktivitas
individu adalah bagaimana seseorang melaksanakan pekerjaannya. Dari definisi
singkat tersebut dapat diketahui bahwa karyawan maupun individu yang melakukan
pekerjaannya dengan baik dan selalu berusaha meningkatkan perbaikan dalam
bekerja, maka karyawan tersebut mempunyai produktivitas yang tinggi.
Produktivitas
dari individu memiliki komponen yang terdiri dari kemampuan di mana terdapat
unsur talenta, faktor internal perorangan, dan keinginan dari setiap individu.
Komponen individu lainnya yaitu usaha yang terdiri dari unsur insentif,
kemampuan untuk bekerja dan kedisiplinan, serta komponen latihan yang
dipergunakan untuk mengatasi masalah dalam pekerjaannya.
Dengan produktivitas yang
tinggi, maka pencapaian tujuan perusahaan dapat dicapai semaksimal mungkin.
Produktivitas kerja yang rendah merupakan masalah yang harus diselesaikan oleh
perusahaan karena produktivitas karyawan dapat mempengaruhi kualitas dan
kuantitas perusahaan dalam menghadapi persaingan dan menjadi kunci utama dalam
mencapai tujuan perusahaan.
1.2.1.2 Definisi
Produktivitas Kelompok
Konsep
produktivitas dari Miner (1992:398), menyatakan bahwa produktivitas kelompok
merupakan “output devided by input, the
productivity indes is the ratio of output and input”.
Jadi
produktivitas kelompok adalah output dalam usaha kelompok yang dibagi oleh
input dalam usaha kelompok dan indeks produktivitas kelompok adalah rasio dari output dan input dalam kelompok. Patokan yang digunakan dalam pengukuran
produktivitas kelompok yaitu :
a. Jangka
waktu pengukuran dalam waktu tertentu.
b. Jumlah
atau nilai output dari usaha kelompok.
c. Jumlah
atau nilai input dari usaha kelompok.
d. Perbandingan
output-input sebagai indeks produktivitas kelompok.
1.2.2
Manfaat Memahami
Produktivitas
Dengan
memahami konsep produktivitas, maka dapat diketahui arti maupun pentingnya
produktivitas dalam pencapaian tujuan organisasi. Dalam kaitannya dengan tenaga
kerja, maka produktivitas tenaga kerja merupakan perbandingan antara hasil yang
dicapai dengan peran serta tenaga kerja per satuan waktu. Singodimedjo (2000),
mengemukakan rumusan umum dari produktivitas mengandung pengertian perbandingan
antara hasil yang dicapai (output)
dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). Hal tersebut dapat didefinisikan sebagai indeks
produktivitas, yaitu :
|
IP
= Hasil yang dicapai (output) ÷ Sumber daya yang digunakan (input)
|
Untuk
mendapatkan indeks produktivitas yang tinggi, maka sumber daya yang digunakan (input) harus diperhatikan, dikelola,
diatur, dan ditingkatkan semaksimal mungkin dikarenakan dalam setiap kegiatan
produksi, seluruh sumber daya mempunyai peran yang menentukan tingkat
produktivitas.
1.2.3
Faktor – Faktor Yang
Mempengaruhi Produktivitas
Kelompok/ Tim
Banyak
sekali faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas kerja, baik yang
berhubungan dengan individu atau personal maupun yang berhubungan dengan dengan
tim kerja secara keseluruhan.
Menurut
Eugenio López-Ortega dan Saloma-Velazquez dalam
bukunya yang berjudul “A Worker
Productivity Model” (2002), terdapat empat level yang mempengaruhi suatu
produktivitas tenaga kerja. Empat level
tersebut, yaitu:
1. Faktor individu atau personal
2. Faktor tim kerja
3. Faktor teknologi
4. Faktor organisasi
Gambar 2 : Empat level yang mempengaruhi
produktivitas tenaga kerja
(model Eugenio López-Ortega
and Saloma-Velazquez)
Dalam makalah ini, hanya dijelaskan
faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tim dan individu saja.
Produktivitas
kerja tidak lepas dari peran individu, tim, teknologi, dan organisasi. Semua
hal tersebut dapat mempengaruhi suatu produktivitas kerja. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi produktivitas tim, yaitu:
1. Leadership (kepemimpinan)
Suatu kepemimpinan dinyatakan sesuai
apabila tercipta suatu suasana kerja yang memadai dalam kelompok kerja.
Kemampuan kepemimpinan adalah elemen yang penting dalam meningkatkan kepuasan
kerja sehingga akhirnya akan menciptakan produktivitas kerja yang efektif dan
efisien.
2. Work Team Organization (Kerja Tim)
Hubungan yang baik antara organisasi
dengan tim kerja memungkinkan keseimbangan yang memadai dan membuat kemungkinan
adanya motivasi positif dari setiap anggota tim kerja tersebut.
1.2.4
Faktor – Faktor Yang
Mempengaruhi Produktivitas
Individu
Selain terdapat faktor-faktor yang
mempengaruhi produktivitas tim, suatu produktivitas kerja pun juga dipengaruhi
oleh faktor individu atau personal dalam organisasi. Menurut Eugenio López-Ortega
dan Saloma-Velazquez (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas
individu, yaitu:
1. Responsibility
(tanggung jawab)
Tanggung
jawab (responsibility) mengacu pada
pelaksanaan tugas yang diberikan kepada pekerja beserta tanggung jawabnya. Hal
ini merupakan proses psikologis yang kompleks yang hasilnya tergantung pada
sikap pekerja dan beberapa faktor eksternal yang mempengaruhi kepuasan pekerja.
2. Learning Capacity
(kapasitas belajar)
Kapasitas
belajar (learning capacity) mengacu
pada kemampuan yang dimiliki oleh pekerja untuk belajar dan menggunakan
pengetahuannya untuk melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Hal ini
terkait dengan tingkat pendidikan dan kemauan untuk belajar.
3. Satisfaction
(kepuasan)
Kepuasan
merupakan faktor yang memotivasi tampilan tak terbatas terhadap suatu tanggung
jawab dan kapasitas belajar dari seorang pekerja. Kepuasan ini merupakan faktor
yang kompleks di mana telah mensintesis beberapa faktor di atasnya.
1.2.5
Pengukuran Produktivitas
Produktivitas
merupakan hal yang sangat penting bagi para karyawan yang ada di perusahaan.
Dengan adanya produktivitas kerja diharapkan pekerjaan akan terlaksana secara
efektif dan efisien, sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
Untuk mengukur produktivitas, diperlukan suatu indikator sebagai berikut :
1. Kemampuan
Kemampuan
seorang karyawan sangat bergantung pada keterampilan yang dimiliki serta
profesionalisme mereka dalam bekerja. Hal tersebut memberikan daya untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya.
2. Meningkatkan
hasil yang dicapai
Setiap
pihak berupaya untuk memanfaatkan produktivitas agar dapat meningkatkan hasil
kerja, karena hasil merupakan salah satu hal yang dapat dirasakan oleh yang
mengerjakan maupun yang menikmati hasil pekerjaan tersebut.
3. Semangat
kerja
Indikator
ini dapat dilihat dari etos kerja dan hasil yang dicapai dalam suatu hari
kemudian dibandingkan dengan hari sebelumnya.
4. Pengembangan
diri
Pengembangan
diri dapat dilakukan dengan melihat tantangan dan harapan dengan apa yang
dihadapi. Semakin kuat tantangan, pengembangan diri mutlak dilakukan. Begitu
juga harapan untuk menjadi lebih baik akan berdampak pada keinginan karyawan
untuk meningkatkan kemampuan.
5. Mutu
Mutu
merupakan hasil pekerjaan yang dapat menunjukkan kualitas kerja seorang
pegawai. Meningkatkan mutu bertujuan untuk memberikan hasil terbaik akan sangat
berguna bagi perusahaan dan dirinya sendiri.
6. Efisiensi
Perbandingan
antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan, masukan
dan keluaran merupakan aspek produktivitas yang memberikan pengaruh yang cukup
signifikan bagi karyawan.
Pengukuran
produktivitas dapat memperlihatkan adanya suatu perubahan. Dengan adanya
pengukuran produktivitas ditingkat perusahaan, pihak manajemen mengetahui bahwa
usahanya sedang berkembang. Dalam pengukuran produktivitas ada dua cara, yaitu:
1. Pengukuran secara kuantitatif
Pengukuran produktivitas
secara kuantitatif ini yaitu berdasarkan pada kuantitas dan proses yang ketat
di dalam perusahaan, pengukuran secara kuantitas ada dua macam yaitu:
- Produktivitas total adalah rasio
dari output dengan jumlah dari seluruh input (Produktivitas
total = Output total /Input total)
- Produktivitas parsial adalah
rasio dari output dengan sejenis input (Produktivitas
parsial = Output parsial/Input parsial)
2.
Pengukuran secara kualitatif
Pada pengukuran ini kita
dapat meningkatkan produktivitas berdasarkan sejauh dimana karyawan
melaksanakan tugas atau mengenal kebiasaan kerja dalam hal absensi, sikap dalam
menghadapi atasan dan teman kerja, tanggungjawab dalam melaksanakan tugas serta
hal yang menyangkut semangat kerja.
Pengukuran
produktivitas, bertujuan antara lain untuk membandingkan hasil pertambahan
pendapatan dan kesempatan kerja dari waktu ke waktu, jumlah hasil sendiri
dengan hasil orang lain, dan komponen prestasi utama sendiri dengan kemampuan
utama lain. Hasil penting dalam pengukuran produktivitas adalah aspek input yang digunakan maupun output yang dihasilkan oleh suatu
usaha. Ukuranoutput dinyatakan dalam
bentuk jumlah sasaran produk, nilai rupiah produk, jumlah laba kotor, dan nilai
tambah. Menurut Rusli Syarif (1997:49) ukuran input dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah tenaga kerja, jumlah jam
kereja, jumlah biaya tenaga kerja, jumlah jam mesin, jumlah material, dan jumlah
biaya keseluruhan.
Berdasarkan
uraian di atas tentang pengukuran produktivitas, maka dapat diketahui bahwa
untuk mengukur produktivitas diperlukan indikator, diantaranya yaitu kemampuan,
meningkatkan hasl yang dicapai, semangat kerja, pengembangan diri, mutu, dan
efisiensi. Pengukuran produktivitas dapat memperlihatkan adanya suatu
perubahan, dimana dalam pengukuran produktivitas tersebut terdapat dua cara,
yaitu pengukuran secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penting dalam pengukuran
produktivitas adalah aspek input yang
digunakan maupun output yang
dihasilkan oleh suatu usaha.
1.2.6
Strategi Meningkatkan
Produktivitas
Pentingnya
peningkatan produktivitas dapat menunjang lajunya pertumbuhan ekonomi. Apabila
perekonomian tumbuh dan berkembang, maka dapat menciptakan pemerataan
kesempatan kerja. Perluasan kesempatan kerja akan menambah tingkat pendapatan
masyarakat, jika pendapatan masyarakat bertambah, maka hal tersebut dapat
meningkatkan daya beli dan kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan
dalam
meningkatkan suatu produktivitas salah satunya ditentukan oleh etos kerja yang
harus dipegang teguh oleh semua karyawan dalam organisasi. Etos kerja adalah
norma-norma yang bersifat mengikat dan ditetapkan secara eksplisit serta
praktik-praktik yang diterima dan diakui sebagai kebiasaan yang wajar untuk
dipertahankan dan diterapkan dalam kehidupan kekaryaan para anggota suatu organisasi.
Peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan memperbaiki rasio
produktivitas, dengan menghasilkan lebih banyak keluaran atau output yang lebih baik dengan tingkat
masukan sumber daya tertentu (Blecher, 1987:3).
Adapun strategi yang dapat meningkatkan produktivitas menurut
Siagian (2002) adalah sebagai berikut :
1.
Perbaikan
terus menerus
Strategi peningkatan
produktivitas kinerja, salah satu implikasinya adalah bahwa seluruh komponen
organisasi harus melakukan perbaikan secara terus-menerus. Pentingnya etos
kerja terlihat lebih jelas, mengingat bahwa suatu organisasi selalu dihadapkan
oleh tuntutan yang terus-menerus berubah, baik secara internal maupun
eksternal. Secara internal, perubahan yang terjadi adalah perubahan strategi
organisasi, perubahan pemanfaatan teknologi, perubahan kebijaksanaan, dan
perubahan dalam praktik-praktik SDM sebagai akibat diterbitkannya
perundang-undangan baru oleh pemerintah dan berbagai faktor lain yang tercantum
dalam keputusan manajemen. Sedangkan perubahan eksternal adalah perubahan yang
terjadi dengan cepat karena dampak tindakan suatu organisasi yang dominan
peranannya di masyarakat.
2.
Peningkatan mutu hasil pekerjaan
Upaya melakukan perbaikan
secara terus-menerus berkaitan dengan peningkatan mutu hasil pekerjaan oleh
semua orang dan segala komponen organisasi. Padahal, mutu tidak hanya berkaitan
dengan produk yang dihasilkan dan dipasarkan, baik berupa barang maupun jasa,
akan tetapi menyangkut segala jenis kegiatan dimana organisasi terlibat. Dengan
demikian, mutu tersebut menyangkut semua jenis kegiatan yang diselenggarakan
oleh semua satuan kerja, baik pelaksana tugas pokok maupun pelaksana tugas
penunjang dalam organisasi. Peningkatan mutu tersebut tidak hanya penting
secara internal, akan tetapi juga secara eksternal karena akan tercermin dalam
interaksi organisasi dengan lingkungannya yang pada gilirannya turut membentuk
citra organisasi dimata berbagai pihak disemua organisasi.
3.
Pemberdayaan sumber daya manusia
SDM merupakan unsur yang
paling strategis dalam organisasi. Oleh karena itu, memberdayakan SDM merupakan
etos kerja mendasar yang harus dipegang teguh oleh semua eselon organisasi
dalam hierarki organisasi. Memberdayakan SDM mengandung berbagai kiat seperti
mengakui harkat dan martabat manusia, perkayaan mutu kekaryaan dan penerapan
gaya manajemen yang partisipatif melalui proses demokratisasi dalam kehidupan
organisasi.
Berdasarkan
uraian di atas, dapat diartikan bahwa strategi atau upaya yang dapat
meningkatkan produktivitas adalah dengan melakukan perbaikan terus-menerus
dimana hal tersebut berimplikasi secara menyeluruh dalam komponen organisasi
sehingga dapat memicu sebuah perubahan. Peningkatan mutu hasil pekerjaan dan
pemberdayaan SDM jugs harus dilakukan. Ketiga upaya tersebut penting untuk
dilakukan dalam meningkatkan etos kerja yang akan meningkatkan mutu dari hasil
pekerjaan serta pemberdayaan SDM salah satu upaya yang penting dalam
peningkatan produktivitas kerja yang tinggi.
1.3
Perbedaan
Antara Kinerja Dan Produktivitas
Menurut
A.A. Anwar Prabu Mangkunegara (2005: 9), kinerja karyawan
(prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai
oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung
jawab yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kinerja SDM adalah
prestasi kerja, atau hasil kerja (output)
baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai SDM per satuan periode waktu dalam
melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Sedangkan produktivitas merupakan nisbah atau rasio antara hasil
kegiatan (output, keluaran) dan
segala pengorbanan (biaya) untuk mewujudkan hasil tersebut (input, masukan) (Kussriyanto, 1984, p.1).
Berdasarkan pengertian
kinerja dan produktivitas tersebut, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan
perbandingan antara hasil kerja (output)
dengan periode (waktu), sedangkan produktivitas adalah perbandingan antara
hasil kerja (output) dengan sumber daya yang digunakan (input). Jadi, perbedaan kinerja dengan produktivitas terletak pada
denominator perbandingannya. Denominator dari kinerja adalah waktu yang
dibutuhkan, sedangkan denominator dari produktivitas adalah sumber daya yang
digunakan (input).
Produktivitas
juga diartikan sebagai tingkatan efisiensi dalam memproduksi barang atau jasa. Jika denominator dalam perbandingan
produktivitas adalah sumber daya yang
digunakan (input), maka produktivitas
berkenaan langsung dengan sumber daya dalam suatu organisasi. Dengan begitu,
produktivitas lebih menitikberatkan pada efisiensi penggunaan sumber daya
tersedia. Seperti yang kita ketahui, sumber daya yang dimiliki organisasi
sangat beragam tetapi jumlahnya terbatas. Untuk itulah hal ini menjadi
tantangan tersendiri bagi suatu organisasi untuk menggunakan sumber daya secara
efisien demi terciptanya produktivitas yang optimal.
Jika produktivitas lebih
menitikberatkan pada efisiensi penggunaan sumber daya, maka dapat dikatakan
bahwa kinerja lebih menitikberatkan pada efektivitas pengggunaan waktu. Seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa denominator dari kinerja adalah waktu
yang dibutuhkan. Sehingga suatu organisasi dianggap dapat menghasilkan kinerja
terbaik jika organisasi tersebut dapat mengoptimalkan efektivitas penggunaan
waktu. Penggunaan waktu yang efektif menjadi begitu penting karena dapat
mempermudah organisasi dalam mencapai tujuannya sesuai dengan waktu yang
ditentukan dengan kinerja terbaiknya.
Secara
ringkas, perbedaan antara kinerja dan produktivitas dapat dilihat pada tabel
berikut :
Tabel
1.1 Perbedaan Kinerja dan Produktivitas
No
|
Kinerja
|
Produktivitas
|
1.
|
Merupakan
perbandingan antara hasil kerja (output)
dengan periode (waktu)
|
Merupakan
perbandingan antara hasil kerja (output)
dengan sumber daya yang digunakan (input)
|
2.
|
Denominator
perbandingan pada kinerja adalah waktu yang dibutuhkan
|
Denominator
perbandingan pada produktivitas adalah sumber daya yang digunakan (input)
|
3.
|
Untuk
hasil yang optimal, kinerja lebih menitikberatkan pada efektivitas penggunaan
waktu
|
Untuk
hasil yang optimal, produktivitas lebih menitikberatkan pada efisiensi
penggunaan sumber daya
|
BAB
II
MOTIVASI
2.1
Definisi
Motivasi
Kata
motivasi berasal dari bahasa latin “Movere” yang artinya menimbulkan
pergerakan. Motivasi didefinisikan sebagai kekuatan psikologis yang
menggerakkan seseorang ke arah beberapa jenis tindakan (Haggard, 1989) dan
sebagai suatu kesediaan peserta didik untuk menerima pembelajaran, dengan
kesiapan sebagai bukti dari motivasi (Redman, 1993). Motivasi merupakan aspek
penting dalam menentukan perilaku seseorang. Beberapa peristiwa seperti arsitek
yang bekerja seharian untuk menggambar desain rumah hingga lupa makan dan
tidur, seorang pujangga yang menghabiskan malamnya untuk berkarya, pendaki
gunung yang rela hampir mengorbankan nyawanya ketika melewati tebing-tebing
curam demi mencapai puncak gunung, dan aksi para buruh yang turun ke jalan
melakukan aksi demi menuntut haknya, memunculkan faktor apa yang mendorong
mereka rela melakukan hal demikian. Faktor tersebut dapat meliputi aspek fisik
dan psikologis yang kemudian dikenal dengan istilah motivasi.
The
New Oxford Dictionary of English (2000) mendefinisikan
motivasi sebagai “the reason or reasons one has for acting or behaving in a
particular way”.
Robbins (2001) mendefinisikan motivasi sebagai “the process
that account for an individual’s intensity, direction, and persistence of
effort toward attaining a goal”.
Lindsey (1957) mendefinisikan motivasi sebagai “the
combination of forces that initiate, direct, and sustain behavior toward a goal”.
Menurut Mangkunegara
(2005), motivasi terbentuk dari sikap (attitude) karyawan dalam
menghadapi situasi kerja di perusahaan (situation). Motivasi merupakan
kondisi atau energi yang menggerakkan diri karyawan yang terarah atau tertuju
untuk mencapai tujuan organisasi perusahaan. Sikap mental karyawan yang pro dan
positif terhadap situasi kerja itulah yang memperkuat motivasi kerjanya untuk
mencapai kinerja maksimal.
Motivasi adalah suatu
perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan timbulnya
perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan (Mr. Donald, 1950). Motivasi adalah
suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan / tingkah laku
untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan / keadaan dan kesiapan dalam diri
individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai
tujuan (Drs. Moh. Uzer Usman, 2000). Motivasi adalah usaha – usaha untuk
menyediakan kondisi – kondisi sehingga anak itu mau melakukan sesuatu (Prof.
Drs. Nasution, 1995)
Berdasarkan pengertian di
atas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan respon seseorang terhadap
sejumlah pernyataan mengenai keseluruhan usaha yang timbul dari dalam diri
orang tersebut agar tumbuh dorongan untuk bekerja dan tujuan yang dikehendaki
oleh mereka bisa tercapai. Motif yang kuat akan menghasilkan usaha yang keras
meskipun usaha tersebut ditempuh dengan segala resiko yang juga tinggi, tetapi
hakikatnya perilaku tertentu menghasilkan konsekuensi tertentu yang diharapkan
dan diinginkan, seperti bilamana seorang pegawai bekerja dengan baik maka akan
mendapatkan penghargaan atau pujian. Pada kasus arsitek, pujangga, para buruh,
dan pendaki gunung di awal tadi, apakah perilaku tersebut merupakan dorongan
biologis, atau dorongan mencari kesenangan, imbalan, dan kepuasan, semuanya
menunjukkan bahwa motivasi adalah sesuatu yang kompleks.
2.2
Tujuan
Dan Fungsi Motivasi
Secara
umum dapat dikatakan bahwa tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau
menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan
sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil dan atau mencapai tujuan tertentu. Bagi
seorang perawat, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau memacu
individu, kelompok, dan masyarakat agar timbul keinginan dan kemauannya untuk
dapat berperilaku hidup bersih dan sehat, sehingga tercapai tujuan yang
diharapkan dalam upaya meningkatkan peran, fungsi, dan kemampuan individu dalam
membuat keputusan untuk memelihara kesehatan (Taufik, 2002).
Tujuan
dari motivasi adalah sarana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Bagi seorang
guru, tujuan dari motivasi adalah dapat menggerakkan atau memacu para siswa
agar dapat timbul keinginan dan kemauan untuk meningkatkan prestasi belajar
sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan
ditetapkan di dalam kurikulum sekolah. Suatu tindakan memotivasi atau
memberikan motivasi akan lebih dapat berhasil jika tujuannya jelas dan disadari
oleh pihak yang diberi motivasi serta sesuai dengan kebutuhan orang yang
dimotivasi. Oleh karena itu, setiap orang yang akan diberikan motivasi harus
mengenal dan memahami benar-benar latar belakang kehidupan, kebutuhan, dan
kepribadian yang akan dimotivasi, termasuk di dalamnya antara seorang guru dan
siswanya. Sebagai contoh, seorang guru memberikan pujian kepada seorang siswa
yang maju ke depan kelas dan dapat mengerjakan hitungan matematika di papan
tulis. Dengan pujian itu, dalam diri anak tersebut timbul rasa percaya diri, di
samping itu timbul keberaniannya sehingga ia tidak takut dan malu lagi jika
disuruh maju ke depan kelas (Purwanto, 2007).
Dari
penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan dari motivasi adalah sebagai
penyemangat individu maupun kelompok untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu
demi tercapainya suatu tujuan tertentu. Motivasi juga bertujuan untuk memberi
perubahan positif agar seorang individu mau melaksanakan pekerjaannya.
Sedangkan
fungsi motivasi, menurut Hamalik (1992) yaitu:
1. Mendorong
timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan
seperti belajar.
2. Sebagai
pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang
diinginkan.
3.
Sebagai penggerak, ia
berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan
cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.
Mulyadi
dalam bukunya “Psikologi Pendidikan” mengungkapkan empat macam fungsi motivasi
terkait hal-hal yang dihadapi guru dalam suasana belajar, yaitu:
1.
Fungsi
Penggugahan (Arousal Function).
Maksudnya
belajar tidak akan terjadi apabila tidak ada penggugah atau minat secara
emosional yang telah ada pada diri siswa. Setelah siswa tergugah
minatnya, maka tugas guru selanjutnya adalah mengikat perhatian siswa
agar senantiasa terikat dalam suasana belajar.
2. Fungsi Penggarapan (Expectancy Function).
Artinya jika ada dorongan belajar belum muncul pada
diri siswa dan pada dirinya ditetapkan segenggam harapan untuk
memahami, memiliki dan juga menguasai kecakapan, ketrampilan dan juga
pengetahuan setelah menyelesaikan tugas belajarnya.
3. Fungsi Pengajaran (Incentive Function).
Untuk mendorong siswa belajar secara optimal, guru
perlu memberi ganjaran ataupun hadiah yang setimpal dengan usaha siswa dalam
mencapai apa yang diinginkan, siswa yang merasa mudah dapat memecahkan dan juga
menyelesaikan persoalan yang dihadapinya akan menjadi puas dan kepuasan itu
membentuk semacam reward bagi dirinya.
4. Fungsi Pengaturan Tingkah Laku (Diciplinary
Function).
Agar belajar berjalan secara optimal diperlukan adanya
pengaturan tingkah laku secara optimal dan juga relevan dengan keadaan siswa.
Guru wajib menanamkan disiplin pada diri siswa agar senantiasa mereka berada
dalam situasi belajar.
Jadi peran
motivasi sebenarnya dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk penggerak
mesin motivasi. Dengan begitu mesin motivasi akan bekerja terus sampai tujuan
tercapai dengan baik.
2.3
Elemen
Motivasi
Menurut
George and Jones (2005) ada tiga elemen dalam motivasi kerja dan tiga elemen
tersebut adalah adalah arah perilaku, tingkat usaha, tingkat kegigihan.
1. Arah perilaku
Hal ini menunjukkan perilaku manakah yang dipilih
seseorang untuk ditunjukkan. Dalam pekerjaan manapun, ada banyak perilaku
(beberapa tepat dan beberapa tidak tepat) dimana seorang pekerja dapat terlibat
di dalamnya. Arah perilaku mengacu pada perilaku yang dipilih karyawan untuk ditunjukkan
dari banyak potensi perilaku yang dapat
mereka tunjukkan. Sebagai contoh,
karyawan dapat termotivasi dengan cara
berfungsi, yang dapat menolong perusahaan dalam mencapai tujuannya, atau dengan
tidak berfungsi yang menghalangi perusahaan dalam mencapai tujuannya. Dengan
melihat kepada motivasi, manager ingin memastikan bahwa arah perilaku bawahan
mereka berfungsi bagi organisasi. Mereka ingin karyawan untuk termotivasi
datang tepat waktu, melakukan tugas yang diberikan dan dapat dipercaya, datang dengan
ide-ide baru, dan menolong sesamanya. Manager tidak ingin karyawannya untuk
datang terlambat, mengabaikan aturan yang mengutamakan kesehatan dan keamanan,
atau menggantikan kualitas dengan “mulut manis”.
2. Tingkat Usaha
Hal ini menunjukkan seberapa keras seseorang bekerja
untuk menunjukkan perilaku yang dipilihnya. Tidak cukup bagi organisasi
memotivasi karyawannya untuk menunjukkan perilaku yang berfungsi bagi
perusahaan, organisasi juga harus memotivasi mereka untuk bekerja keras dalam
perilaku ini. Sebagai contoh, jika seorang engineer memutuskan untuk
meyakinkan pimpinan yang skeptis untuk
perubahan suatu desain, level motivasi engineer tersebut menentukan
seberapa jauh ia akan meyakinkan pimpinannya. Apakah engineer tersebut
hanya menyebutkan kebutuhan akan perubahan tersebut dalam percakapan biasa,
atau ia akan mempersiapkan laporan detail yang menunjukkan permasalahan
tersebut dengan spesifikasi sebenarnya dan mendeskripsikan spesifikasi
penurunan biaya baru yang dibutuhkan?
3. Tingkat Kegigihan
Ketika menghadapi rintangan, jalan buntu, dan tembok
batu, seberapa keras seseorang tetap mencoba untuk menunjukkan perilaku yang
dipilihnya dengan baik? Seandainya pimpinan seorang engineer menyatakan bahwa perubahan
spesifikasi adalah hanya menyia-nyiakan waktu. Apakah engineer tersebut gigih mencoba untuk
mendapatkan implementasi perubahan tersebut atau menyerah walaupun dia sangat
percaya bahwa hal itu diperlukan? Misalnya, jika mesin pabrik dari salah
seorang karyawan rusak, apakah karyawan akan berhenti bekerja dan menunggu
seseorang untuk datang memperbaikinya, atau ia mencoba untuk memperbaiki mesin
tersebut atau paling tidak memberitahu rekan kerjanya tentang permasalahan
tersebut?
Sedangkan menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan
energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya rasa (feeling)
dan di dahului dengantanggapan terhadap adanya tujuan. Dari penjelasan yang di
kemukakan Mc.Donald ini mengandung 3 elemen penting yaitu :
1. Bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan
energi pada diri setiap individu. Perkembangan motivasi akan membawa
beberapaperubahan energi di dalam sistem “neurophysiological” yang ada
padaorganisme manusia (walaupun semua motivasi itu muncul dari dalam
dirimanusia), penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia.
2. Motivasi di tandai dengan munculnya rasa (feeling),
afeksi seseorang.
Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan,
afeksi, dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
Dalam hal ini motivasi relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan,
afeksi, dan emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
3. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan.
Jadi motivasi dalam hal
ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi
memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena
terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan.
Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
ini sebenarnya merupakan respons dari suatu aksi, yakni tujuan. Motivasi
memang muncul dari dalam diri manusia, tetapi kemunculannya karena
terangsang/terdorong oleh adanya unsur lain, dalam hal ini adalah tujuan.
Tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Jadi, pada
dasarnya perilaku diarahkan pada suatu tujuan dalam rangka memenuhi kebutuhan
individu. Proses motivasi sebagai pengarah perilaku dapat dikatakan
sebagai suatu siklus dan merupakan suatu sistem yang terdiri dari tiga elemen
(Suryana Sumantri, 2001: 54). Ketiga elemen tersebut adalah kebutuhan (needs),
dorongan (drives), dan tujuan (goals). Ketiga elemen itu
saling mendukung dan saling mempengaruhi. Ketiga elemen tersebut bisa
diuraikan sebagai berikut:
1. Kebutuhan (needs)
Kebutuhan
merupakan suatu ‘kekurangan’. Dalam pengertian keseimbangan, kebutuhan
tercipta apabila terjadi ketidakseimbangan yang bersifat fisiologis atau
psikologis.
2.
Dorongan (drives)
Suatu dorongan dapat dirumuskan secara sederhana
sebagai suatu kekurangan disertai dengan pengarahan. Dorongan tersebut
berorientasi pada tindakan untuk mencapai tujuan.
3.
Tujuan (goals)
Suatu tujuan dari
siklus motivasi adalah segala sesuatu yang akan meredakan suatu kebutuhan dan
akan mengurangi dorongan. Jadi pencapaian suatu tujuan cenderung akan
memulihkan ketidakseimbangan menjadi keseimbangan yang bersifat fisiologis dan
psikologis.
Dengan penjelasan menurut ketiga ahli tersebut, maka dapat di katakan
bahwa motivasiitu sebagai sesuatu yang kompleks. Motivasi akan menyebabkan
terjadisuatu perubahan energi dan arah perilaku yang ada pada diri manusia,
sehingga akanmemunculkan persoalan gejala kejiwaan, dorongan perasaan dan juga
emosi berupa usaha dan kegigihan untukbertindak atau melakukan sesuatu. Semua
ini didorong karenaadanya tujuan, kebutuhan atau keinginan.
2.4
Teori
Motivasi
Motivasi merupakan suatu
stimulus dalam diri seseorang yang
menyebabkan seseorang melakukan tindakan. Seseorang melakukan tindakan untuk
mencapai tujuan yang diinginkan.
Motivasi menjadi salah satu variabel yang sangat penting dalam
menentukan kinerja dan produktivitas seseorang, termasuk perilaku kerja.
Efektivitas SDM mencakup
kepuasan/ ketidakpuasan kerja, tanggung jawab organisasi, produktivitas,
kulitas, dan pelayanan. Pemahaman terhadap teori motivasi menjadi hal yang
penting karena berkaitan dengan efektivitas SDM. Teori motivasi berisi mengenai
hubungan pengusahaan pemuasan kebutuhan manusia.
2.4.1
Teori Hirarki Kebutuhan
Teori hirerarki kebutuhan
merupakan teori Abraham Maslow. Pada teori ini, Maslow mengklasifikasikan
kebutuhan manusia menjadi kategori dalam urutan menaik secara berurutan
(manajemen sumber daya manusia:). Urutan teori hirarki Maslow dari hirarki
terdasar adalah :
1. Kebutuhan
dasar 1 : Kebutuhan Fisiologis
Kebutuhan fisiologis bersifat neostatik
yang bearti menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik. Unsur tersebut meliputi
makan, minum, gula, garam, protein, kebutuhan istirahat dan seks. Kebutuhan
fisiologis ini sangat kuat, karna manusia akan memenuhi kebutuhan ini untuk
mempertahankan hidupnya
2. Kebutuhan
dasar 2 : Kebutuhan Keamanan (Safety)
Kebutuhan
keamanaan adalah kebutuhan perlindungan, stabilitas, proteksi, struktur hukum,
keteraturan, batas, kebebasan dari rasa takut dan cemas. Kebutuhan fisiologis
dan keamanan pada dasarnya adalah kebutuhan mempertahankan kehidupan. Kebutuhan
fisiologis adalah pertahanan hidup jangka pendek, sedang keamanan adalah
pertahanan hidup jangka panjang.
3. Kebutuhan
Dasar 3 : Kebutuhan Dimiliki Dan Cinta (Belonging
And Love)
Seserang sangat peka
dengan kesendirian, pengasingan, ditolak lingkungan, dan kehilangan sahabat
atau kehilangan cinta. Kebutuhan ini mencakup kebutuhan sosial, kebutuhan akan
teman, dicintai, dan mencintai serta diterima dalam pergaulan kelompok karyawan
dan lingkungannya. Kebutuhan dimiliki ini terus penting sepanjang hidup.
Cinta dibagi 2 yakni deficiency atau d-love dan being atau b-love. D-love adalah kebutuhan cinta karena kekurangan. Orang yang
mencintai sesuatu yang tidak dimilikinya. Misalnya : hubungan pacaran, hidup
bersama atau perkawinan yang membuat orang terpuaskan kenyamanan dan
keamanannya.
B-love didasarkan pada
penilaian mengenai orang lain apa adanya, tanpa keinginan mengubah atau
memanfaatkan orang itu. Cinta yang tidak berniat memiliki, tidak mempengaruhi,
dan terutama bertujuan memberi orang lain gambaran positif, penerimaan diri dan
perasaan dicintai, yang membuka kesempatan orang itu untuk berkembang.
4. Kebutuhan
Dasar 4 : Kebutuhan Harga Diri (Self Esteem)
Kebutuhan harga diri, adalah kebutuhan
akan penghargaan diri, dari karyawan dan masyarakat sekitarnya. Ada dua jenis
harga diri :
1. Menghargai
diri sendiri (self respect) : kebutuhan kekuatan, penguasaan, kompetensi,
prestasi, kepercayaan diri, kemandirian, dan kebebasan.
2. Mendapat
penghargaan dari orang lain (respect from other) : kebutuhan penghargaan dari orang lain, status,
ketenaran, dominasi, menjadi orang penting, kehormatan,diterima dan apresiasi.
Orang membutuhkan pengetahuan bahwa dirinya dikenal dengan baik dan dinilai
dengan baik oleh orang lain.
5. Kebutuhan
Dasar Meta : Kebutuhan Aktualisasi Diri
Gambar
3 : Teori Hirarki
Kebutuhan Maslow
Setiap jenjang
pada teori hirarki dapat terpenuhi bila jenjang sebelumnya (dari tingkat dasar)
terpenuhi. Setiap jenjang saling mengikat. Hirarki kebutuhan maslow dapat
diklasifikasikan lebih ringkas menjadi 2 yaitu basic need atau deviciency
need dan metaneeds atau growth needs. Berikut tabel jenjang
kebutuhan:
Tabel
2.1 : Jenjang Kebutuhan Maslow
Jenjang kebutuhan
|
Deskripsi
|
|
Kebututuhan berkembang (metaneeds)
|
Self actualization
Needs
(metaneeds)
|
Kebutuhan orang untuk menjadi yang seharusnya sesuai
dengan potensinya. Kebutuhan kreatif, realisasi diri, dan perkembangan self.
|
Kebutuhan harkat kemanusiaan untuk mencapai tujuan,
terus maju, menjadi lebih baik. Being-valuesà 17
kebutuhan berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman, pemakaian kemampuan
kognitif secara positif mencari kebahagiaan dan pemenuhan kepuasan alih-alih
menghindari rasa sakit. Masing – masing kebutuhan berpotensi sama, satu bisa
mengganti lainnya.
|
||
Kebutuhan karena kekurangan
(basic
needs)
|
Esteem needs
|
1.
Kebutuhan kekuatan, penguasaan,
kompetensi, kepercayaan diri, kemandirian.
2.
Kebutuhan prestise, penghargaan dari
orang lain, status, ketenaran, dominasi, menjadi penting, kehormatan dan
apresiasi.
|
Love needs/
Belonging-ness
|
Kebutuhan kasih sayang, keluarga, sejawat, pasangan,
anak.
Kebutuhan menjadi bagian kelompok, Masyarakat.
(Menurut
Maslow, kegagalan kebutuhan cinta & memiliki ini
menjadi sumber hampir semua bentuk psikopatologi).
|
|
Safety needs
|
Kebutuhan keamanan, stabilitas, proteksi, struktur,
hukum, keteraturan, batas, bebas dari takut dan cemas.
|
|
Psychological
Needs
|
Kebutuhan homeostatik : makan, minum, gula, garam,
protein, serta kebutuhan istirahat dan seks.
|
|
Klasifikasi kebutuhan pada tabel diatas tidak
berjalan secara eksklusif tetapi secara terkait. Tidak ada dua orang yang basic neednya terpuaskan 100%. Maslow
telah memperkirakan rata-rata orang terpuaskan. Berikut tabel presentase
pemuasan kebutuhan (Teori Abraham Maslow).
Tabel 2.2 : Presentase Pemuasan Kebutuhan
No
|
Kebutuhan terpuaskan
|
Presentase terpuaskan
sampai
|
1
|
Fisiologis
|
85%
|
2
|
Keamanan
|
70%
|
3
|
Dicintai dan mencintai
|
50%
|
4
|
Kebutuhan harga diri
|
40%
|
5
|
Aktualisasi diri
|
10%
|
Dalam
mencapai kepuasan kebutuhan, seseorang harus bertahap sesuai tingkatan. Jika
jenjang dibawah mengalami ketidakpuasan atau tingkat kepuasannya masih rendah,
maka akan kembali ke jenjang yang tak terpuaskan tersebut hinga memperoleh
tingkat kepuasan yang dikehendaki.
2.4.2
Teori Motivasi Herzberg
Teori motivasi menurut Herzberg adalah teori 2 faktor. Kedua faktor itu,
yaitu faktor motivasional dan faktor pemeliharaan atau higiene. Teori
ini dikemukakan oleh Frederick Herzberg tahun 1966 yang merupakan pengembangan
dari teori hirarki kebutuhan menurut Maslow.
Faktor motivasional adalah hal-hal pendorong untuk berprestasi. Faktor
motivasional termasuk faktor intrinsik karena berasal dari dalam diri
seseorang. Faktor intrinsik berhubungan dengan kepuasan kerja seseorang.
Kondisi intrinsik tidak akan membawa ketidakpuasan kerja, tetapi akan
memberikan motivasi yang kuat sehingga meningkatkan kinerja. Faktor intrinsik
meliputi pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan berkembang,
tanggung jawab, kemajuan dalam berkarir dan pengkuan orang lain.
Menurut teori dua faktor Herzberg ada tiga hal yang
harus diperhatikan dalam memotivasi, yaitu:
1. Hal-hal yang mendorong karyawan adalah “pekerjaan yang menantang yang
mencakup perasaan untuk berprestasi, bertanggung jawab, kemajuan dapat
menikmati pekerjaan itu sendiri dan adanya pengakuan atas semuanya itu“.
2. Hal-hal yang mengecewakan karyawan adalah terutama faktor yang bersifat
embel-embel saja pada pekerjaan, peraturan pekerjaan, penerangan, istirahat,
sebutan jabatan, hak, gaji, tunjangan dan lain-lainnya.
3. Karyawan kecewa, jika peluang untuk berprestasi terbatas. Mereka akan
menjadi sensitif pada lingkungannya serta mulai mencari-cari kesalahan.
(Hasibuan, 2003)
Faktor higine atau pemeliharaan adalah faktor yang berhubungan dengan
ketidakpuasan kerja. Faktor higiene termasuk faktor ekstrinsik yang bersal dari
luar diri seseorangn misal dari organisasi dan lingkungan kerja yang daapt
mempengaruhi perilaku kerja seseorang. Kondisi ekstrinsik tidak akan membawa
kepuasan kerja, tetapi ketiadaannya akan menimbulkan ketidakpuasan kerja.
Faktor-faktor higiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang
dalam organisasi, hubungan seorang karyawan dengan atasannya, hubungan antar
rekan-rekan kerja, kebijaksanaan organisasi, sistem administrasi dalam
orgnisasi, kondisi kerja,upah,dan keamanan kerja.
“Teori
herzberg memberikan dua kontribusi penting bagi pimpinan organisasi dalam memotivasi
karyawan. Pertama, teori ini
lebih eksplisit dari teori hirarki kebutuhan maslow, khususnya mengenai
hubungan antara kebutuhan dalam performa pekerjaan. Kedua, kerangka ini membangkitkan model aplikasi, pemerkayaan
pekerjaan (leidecker and hall dalam timpe, 1999 : 13).”
Dalam suatu
perusahaan, karyawan secara intrinsik
akan menyenangi pekerjaan sehingga dapat lebih mudah berkreasi dan berimovasi. Karyawan juga dapat
bekerja dengan tingkat tugas yang tinggi dan tidak perlu diawasi dengan ketat.
Kepuasan disini tidak terutama dikaitkan dengan perolehan hal-hal yang bersifat
materi. Sebaliknya, mereka yang lebih terdorong oleh faktor-faktor ekstrinsik
lebih melihat kepada apa yang diberikan oleh organisasi kepada mereka dan
kinerjanya diarahkan kepada perolehan hal-hal yang diinginkannya dari
organisasi. Jadi pemuasan terhadap kebutuhan faktor motivasi lebih memungkinkan
seseorang untuk performa tinggi daripada pemuasan kebutuhan faktor hygienis.
Tabel 2.3Herzberg’s Two Factor Theory
Hygiene Factor
Ektrinsic
|
Motivators
Intrinsic
|
Company policy
and administration (Kebijaksanaan &
administrasi)
|
Achievement(Keberhasilan
pelaksanaan)
|
Supervision
technical (Supervisi)
|
Recognition
(Pengakuan/penghargaan)
|
Salary
(Gaji/Upah)
|
Work it self(Pekerjaan
itu sendiri)
|
Interpersonal
realtion, supervisor (Hubungan antara
pribadi)
|
Responsibility(Tanggung
jawab)
|
Working contion
(Kondisi kerja)
|
Advencement(Pengembangan)
|
Sumber
: Luthas (1992 : 160)
2.4.3
Teori Motivasi Mcclelland
“Teori Mcclelland adalah teori yang menyatakan bahwa individu mempunyai
cadangan energi potensial, bagaimana energi ini dilepaskan dan dikembangkan
tergantung pada kekuatan atau dorongan motivasi dan situasi serta peluang yang
tersedia (Mcclelland dalam Robins 2001;173).”
Mcclelland menjelaskan dalam
bukunya “the achieving society”
mengenai tiga jenis motivasi/teori kebutuhan,yaitu:
1.
Motivasi
untuk berprestasi (N-Ach)
2.
Motivasi
berkuasa (N-Pow)
3.
Motivasi
untuk berafiliasi/bersahabat (N-Affil).
Motivasi berprestasi adalah upaya untuk mencapai suskes
dengan berkompetensi dengan suatu ukuran keunggulan (Mcclelland dan Atkinson
Dalam Buck,1988:21). Standar keunggulan yang dimaksud adalah prestasi orang
lain atau prestasi sendiri yang pernah diraih sebelumnya.
1.
Kebutuhan
akan prestasi (N-Ach)
“Mcclellan mengemukakan bahwa need
for achievment yaitu kebutuhan untuk berprestasi yang meruoakan refleksi
dari dorongan akan tanggung jawab untuk pemecahan masalah. Sesorang yang
kebutuhan berprestasinya tinggi cenderung untuk mengambil resiko. (Mcclelland
Dalam Robbins 2001:173). “
Kebutuhan
prestasi adalah kebutuhan seseorang utuk memiliki pencapaian signifiakn ,
menguasai dan memahami berbagai keahlian
dan melakuakn diatas standar. Seseorang yang memiliki n-ach adalah
mereka yang suka dengan tantangan dan risiko. Maka kebutuhan untuk berprestasi
adalah kebutuhan untuk melakukan kinerja lebih baik lagi dari sebelumnya dan
selalu mencapai perrestasi yang lebih tinggi.
Kebutuhan ini daalm hirarki maslow terletak di
antara kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri. Pertumbuhan
ekonomi masyarakat dapat didasarkan pada tingkat n-ach yang tinggi karena
individu dngan n-ach tinggi lebih menyukai kondisi bekerja.
2.
Kebutuhan
akan kekuasaan (N-Pow)
“Teori kebutuhan kekuasaan atau need for power yaitu, “kebutuhan akan
kekuasaan yang merupakan refleksi dari dorongan untuk mencapai autoritas, untuk
memiliki pengaruh kepada orang lain”. (Mcclelland dalam R Obbins (2001:173)). “
Kebutuhan untuk membuat orang-orang lain berperilaku
dalam suatu cara yang sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku
sebaliknuya. Menurut mclelland ad 2 kebutuhan kekuasaan yaitu pribadi dan
soasil. Contoh kekuasaan pribadi adalah seseorang yang ingin mencapai posisi di
tingkat kekuasaan yang lebih tinggi agar daapt mengatur dan mengarahkan orang
lain/pekerja sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Sedangkan kesuasaan sosial
adalah kekuasaan yang dicapai untuk kepentingan sosial dengan kekuasaannya
tersebut. Posisi kebutuhan ini pada teori maslow sama dengan n-ach.
3.
Kebutuhan
untuk berafiliasi atau bersahabat (N-Affil)
“Kebutuhan berafiliasi atau need
for affiliation yaitu, “kebutuhan untuk berafiliasi yang merupakan dorongan
untuk berinteraksi dengan orang lain, berada bersama orang lain, tidak mau
melakukan sesuatu yang merugikan orang lain” (Mcclelland dalam R Obbins
(2001:173).”
Kebutuhan berafiliasi adalah keinginan untuk menjalin interaksi dan
hubungan dengan pihak lain. Hubugan yang dinginkan adalah hubungan yang akrab,
erat, dan kooperatif. Seseorang ingin dapat diterima dan disukai dengan rekan
kerja atau sesamanya dalam lingkungan terkait. Seorang menajer yang sukses
memiliki N-Pow tinggi dan N-Aff yang rendah.
2.4.4
Teori X dan Y
Douglas McGregor dalam bukunya yang berjudul “The Human Side of Enterprise” merumuskan ide-idenya tentang
manajemen dan perilaku didalamnya. Teori ini dikenal dengan Teori X & Y.
Dia mengkaji cara para manajer menangani karyawannya dalam suatu organisasi.
McGregor memperluas keyakinanya bahwa di balik setiap keputusan manajerial atau
tindakan manajerial terdapat asumsi-asumsi tentang sifat manusia dan perilaku
manusia yang penting dalam menentukan gaya operasi setiap manajer. Dia membagi
asumsi-asumsi tersebut menjadi dua kategori luas, yaitu Teori X (berdasarkan
pada asumsi-asumsi petunjuk dan kontrol) dan Teori Y (berdasakan asumsi-asumsi
integrasi dan dukungan).
Teori X meliputi Asumsi dimana rata-rata manusia secara inheren tidak
menyukai pekerjaan. Manajemen yang digunakan adalah manajemen kotemporer. kontemporer yang dimaksut adalah reward yang diberikan untuk kinerja individu
mencerminkan keyakinan dasar yang harus dihadapi manajemen sebagai
kecenderungan manusia untuk menghindari kerja.Asumsi kedua menyatakan bahawa
karakteristik manusia yang tidak suka kerja, sebagian besar harus dipaska,
dikontrol, diarahkan, diancam dengan tujuan-tujuan organisasional.
Meskipun penghargaan bnyak diberikan, karyawan tidak akan menyelesaikan
tugas-tugas yang diperlukan. Hanya ancaman hukuman yang memadai, dengan asumsi
dasar adalah orang-orang yang bekerja di bawah paksaan dan kontrol eksternal.
Asumsi ketiga yang menyatakan bahwa karakteristik manusia memilih untuk
diarahkan, berharap menghindari tanggungjawab, memiliki ambisi yang relatif
kecil, menginginkan keamanan. (McGregor,The Human Side of Enterprise 1960/1987)
Pada Teori Y adalah para karyawan yang tidak menolak untuk bekerja tapi
akan melihatnya sebagai sumber kepuasan atau hukuman bila melakukan kesalahan.
Pra pekerja dapat menggunakan petunjuk dan kontrol diri. Mereka bekerja karena
komitmen terhadap tujuan-tujuan organisasi. Komitmen ini merupakan fungsi
reward yang dikaitkan dengan prestasi mereka dan reward paling utama.
Menurut McGregor asumsi Teori Y memungkinkan yang kuat pertumbuhan dan
perkembangan manusia di dalam situasi kerja. Berdasakan Teori Y tenaga kerja
menjadi sumberdaya yang memiliki potensialitas substansial. McGregor
berpendapat bahwa pengetahuan yang berasal dari Teori Y menyatakan bahwa
batas-batas kolaborasi manusia dalam pengaturan organisasional tidak berasal
dari inheren manusia tapi berasal dari kegagalan manajamen.
Tabel 2.4 Perbedaan Teori
X dan Teori Y
Teori X
|
Teori Y
|
1.
Karyawan tidak menyukai
kerja
dan akan
menghindarinya
|
1.
Karyawan memandang
kerja
sebagai kegiatan
alami.
|
2.
Karyawan harus dipaksa,
diawasi,
dan diancam agar
mencapai
sasaran.
|
2.
Akan melakukan
pengarahan
diri dan
pengawasan diri
|
3.
Karyawan akan
menghindari
tanggung
jawab
dan mencari
pengarahan
formal bila
memungkinkan.
|
3.
Orang belajar untuk
menerima
dan
bertanggung
jawab.
|
4.
Menempatkan keamanan
di
atas semua faktor lain yg
terkait
dengan kerja &
ambisi rendah
|
4.
Kemampuan untuk
mengambil
keputusan
inovatif (kreatif)
|
2.5
Jenis
– Jenis Motivasi
Motivasi dibagai menjadi beberapa jenis menurut
beberapa ilmuan. Jenis-jenis motivasi dibagi menjadi 2 yaitu motivasi intrinsik
dan motivasi ekstrinsik (Djamarah, 2002).
2.5.1
Motivasi Intrinsik
Motivasi intinsik adalah hasrat aatu motif yang berada dalam diri setiap
individu, sehingga menjadi aktif dan berfungsi tanpa perlu dirangsang dari
luar. Motivasi ini muncul dari hati setiap individu dan pada umumnya muncul
karena kesadaran, kepedulian, bakat, kegemaran, dan kemauan. Motivasi intrinsik
dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:
1.
Fisiologis
Kondisi
fisiologis mencakup kondisi jasmani dan pancaindra. Seseorang dalam
keadaan sadar jasmaninya akan memiliki motivasi dan semangat belajar yang lebih
tinggi dibanding dengan orang yang jasmaninya tidak segar atau sedang sakit.
Begitu pula dengan kondisi panca indra, normal atau mengalami gangguan.
2.
Psikologis
Kondisi
psikologis berupa minat dan bakat. Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa
keterikatan pada suatu hal atau aktifitas. Bahkan hal tersebut tidaka ada yang
menyuruh. (Suryabrata, 2007). Bakat
kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang
perlu dikembangkan atau dilatih.
Contoh faktor
intrinsik menurut Arden N. Fradsen (Hayinah, 1992), yang dikutip oleh
Baharuddin (2007), yang termasuk dalam motivasi intrinsik antara lain :
a.
Dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki
dunia yang lebih luas.
b.
Adanya sifat positif dan kreatif yang ada
pada manusia dan keinginan untuk maju.
c.
Adanya keinginan untuk mencapai prestasi
sehingga mendapat dukungan dari orang-orang penting, misalkan orangtua,
saudara, guru, atau teman-teman, dan lain sebagainya.
d.
Adanya kebutuhan untuk menguasai ilmu atau
pengetahuan yang berguna bagi dirinya, dan lain-lain.
Faktor-faktor intrinsik
yang mempengaruhi yaitu :
a.
Kebutuhan (need), yaitu seseorang daalm melakukan
sesuatu karena kebutuhan baik secara biologis ataupun psikologis.
b.
Harapan (expectacy), yaitu seseorang dapat
termotivasi karena keberhasilan mencapai harapan atau tujuan yang dinginkan.
Hal ini bersifat pemuasan diri. Semakin seseorang telah mencapai
keberhasilannya maka dapat memotivasi untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi
lagi.
c. Minat,
yaitu berkaitan dengan kesukaan dan rasa keinginan individu pada
suatu hal. Sesuatu hal bila berasal dari minat maka tidak perlu untuk
disuruh dalam melakukannya. (Taufik: 2007)
2.5.2
Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ektrinsik
adalah hasrat atau motif yang berasal dari rangsangan lingkungan luar atau
pengaruh dari orang lain sehingga seseorang berbuat sesuatu (Djamarah,
2002). Contoh dari motivasi ektrinsik
adalah pujian, peraturan, tata tertib, teladan guru, orangtua, dan lain
sebagainya. Kurangnya respons dari lingkungan secara positif akan memengaruhi semangat
belajar seseorang menjadi lemah.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi motivasi ektrinsik, yaitu:
a.
Dorongan keluarga.
Keluarga
menjadi lingkungan terdekat yang mempengaruhi motivasi seseorang. Keterikatan
dalam1 keluarga membuat kondisi untuk saling mendukung dan mendorong untuk
mencapai tujuan yang diharapkan.
b.
Lingkungan.
Lingkungan
mempunyai peran yang besar dalam memotivasi seseorang dalam merubah tingkah
lakunya. Dalam sebuah lingkungan yang hangat dan terbuka, akan menimbulkan rasa
kesetiakawanan yang tinggi. Lingkungan dapat mempengaruhi seseorang sehingga
dapat termotivasi untuk melakukan sesuatu.
c.
Imbalan.
Dalam
melakuakan sesuatu, individu akan semakin termotivasi bila mendapatkan imbalan.
Imbalan yang dimaksut bisa dalam berbagai bentuk. Imbalan terkadang menjadi
pengaruh yang kuat karena yang jelas keberadaannya. (Taufik : 2007).
Selain dua jenis motivasi di atas,
ada jenis motivasi lainnya menurut Hasibuan (2005) dan Danim (2004).
Menurut Hasibuan
(2005), “Jenis-jenis motivasi dapat dibedakan menjadi:
a.
Motivasi positif, manajer memotivasi
bawahan dengan memberikan hadiah kepada mereka yang berprestasi baik. Dengan
motivasi positif ini semangat kerja bawahan akan meningkat, karena pada umumnya
manusia senang menerima yang baik-baik saja.
b.
Motivasi negatif, manajer memotivasi
bawahannya dengan memberikan hukuman kepada mereka yang pekerjaannya kurang
baik (prestasi rendah). Dengan motivasi negatif ini semangat kerja bawahan
dalam waktu singkat akan meningkat, karena mereka takut dihukum, tetapi dalam
jangka waktu panjang akan berakibat kurang baik“.
Menurut Danim
(2004) menyatakan bahwa, “Secara umum motivasi dapat diklasifikasikan ke dalam
empat jenis yang satu sama lain memberi warna terhadap aktivitas manusia,
yaitu:
a.
Motivasi positif, merupakan proses
pemberian motivasi atau usaha membangkitkan motif, di mana hal itu diarahkan
pada usaha untuk mempengaruhi orang lain agar dia bekerja secara baik dan
antusias dengan cara memberikan keuntungan tertentu kepadanya;
b.
Motivasi negatif, sering dikatakan sebagai
motivasi yang bersumber dari rasa takut, misalnya, jika dia tidak bekerja akan
muncul rasa takut dikeluarkan;
c.
Motivasi dari dalam, timbul pada diri
pekerja pada waktu dia menjalankan tugas-tugas atau pekerjaan dan bersumber
dari dalam diri pekerja itu sendiri;
d.
Motivasi dari luar, adalah motivasi yang
muncul sebagai akibat adanya pengaruh yang ada di luar pekerjaan dan dari luar
diri pekerja itu sendiri. Motivasi ini biasanya dikaitkan dengan imbalan“.
2.6 Upaya Peningkatan
Motivasi
Pentingnya peran karyawan
terhadap perkembangan suatu usaha, mendorong para pemimpin peruahaan untuk
selalu memotivasi karyawan-karyawan agar bisa bekerja secara optimal. Hal ini
perlu dilakukan karena semakin bagus performa karyawan, maka semakin besar pula
peluang sebuah perusahaan dalam mencapai kesuksesan. Berikut ini adalah
upaya-upaya untuk meningkatkan motivasi karyawan:
1.
Meningkatkan motivasi
kerja melalui training
Dengan melakukan training, karyawan
dituntut ntuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya sehingga karyawan
memiliki skill atau keahlian baru ataupun bisa meningkatkan keahlian yang telah
mereka miliki. Hal tersebut bisa berdampak pada pekerjaan karyawan. Dengan
meningkatnya keahlian mereka, maka pekerjaan mereka akan terasa lebih mudah.
Atau jika mereka memperoleh keahlian bar, maka karyawan juga akan mendapatkan
tantangan baru karena dihadapkan dengan pekerjaan baru sesai dengan keahlian
bar yang telah mereka miliki. Karyawan mendapatkan kondisi lingkungan kerja
yang berbeda dengan biasanya sehingga karyawan tidak merasa jenuh terhadap
pekerjaan mereka.
2.
Memberikan penghargaan
kepada karyawan yang berprestasi
Suatu penghargaan diberikan kepada seorang
karyawan berprestasi. Penghargaan ini bisa berupa bonus atau insentif maupun
hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih dari suatu perusahaan. Dengan
melakukan hal ini, karyawan lain akan temotivasi untuk menjadi karyawan
berprestasi dan semakin bersemangat untuk memberikan prestasi-prestasi
berikutnya untuk perusahaan.
3.
Memenuhi kebutuhan
fisiologis dan rasa aman
Kebutuhan fisiologi adalah sarana untuk
mempertahankan kelangsungan hidup. Apabila manusia ingin mempertahankan
eksistansinya, maka ia harus berusaha untuk mencari kebutuhan makan dan papan.
Cara itu hanya akan didapatkan bila ia bekerja. Demikian juga eksistensi sebuah
organisasi, akan terus hidup manakala digerakkan oleh manusia. Memenuhi
kebutuhan fisiologis yang mencukupi bagi karyawan adalah salah satu
meningkatkan motivasi dalam bekerja.
4.
Meningkatkan
hubungan sosial
Kehidupan manusia tidak akan berjalan,
tanpa bantuan orang lain. Orang yang bekerja dalam sebuah perusahaan
membutuhkan kerjasama dengan orang lain. Kerjasama ini bisa dilandasi
berdasarkan keterikatan karena pekerjaan, atau keterikatan berdasarkan
kebutuhan sosial. Dikatakan terikat dengan pekerjaan karena bagian dari
pekerjaannya merupakan bagian dari pekerjaan orang lain. Contoh, seorang wali
kelas membutuhkan nilai dari guru lain, apabila akan mengisi rapot. Adapun
keterikatan yang berdasarkan kebutuhan sosial, misalnya mengadakan koperasi
sekolah.
Organisasi
wajib memberikan iklim yang dibutuhkan oleh karyawannya. Membuat iklim kerja
yang kondusif, membuat iklim kerja dalam suasana kekeluargaan menjadi
tanggungjawab staf manajemen.
5.
Mengikutsertakan
keputusan dalam kebijakan organisasi
Karyawan merupakan aset yang berharga dari
sebuah perusahaan. Keputusan yang diambil oleh perusahaan hendaknya diambil
bersama antara jajaran staf manajemen dan karyawan, bila menyangkut
kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu untuk kemaslahatan bersama. Dalam hal
ini kedudukan karyawan sama dengan staf manajemen. Dengan demikian posisi
karyawan dipandang penting dalam memutuskan kebijakan.
6.
Mendelegasikan
tugas-tugas penting
Adakalanya staf manajemen dalam suatu
waktu tidak dapat mengerjakan tugas tertentu. Karena tugas harus tetap jalan,
maka tidak ada salahnya bila mendelegasikan tugas kepada karyawan. Dengan
demikian, karyawan mendapat kepercayaan dari staf manajemen
7.
Menentukan jenjang
karier yang transparan
Salah satu upaya memacu motivasi bagi
karyawan adalah dengan menginformasikan jenjang karier yang transparan. Dalam
arti, perusahaan memberi peluang yang seluas-luasnya untuk menempati jabatan
tertentu, dengan syarat yang telah ditentukan. Upaya ini ditempuh agar jabatan
diamanatkan pada orang yang tepat, sesuai dengan visi dan misi perusahaan.
8.
Menciptakan iklim
aktualisasi diri
Ada
beberapa orang yang dengan tingkat prestasi tinggi menganggap tugas merupakan
hal yang menyenangkan secara pribadi. Mereka tidak mengharapkan atau
menginginkan penghargaan material. Uang bukan untuk kepentingan pribadi. Mereka
mencari sebagai bentuk umpan balik atau ukuran atas apa yang mereka lakukan.
Jika diminta memilih, antara tugas mudah dengan upah tinggi atau tugas lebih
sulit dengan upah lebih rendah, orang sukses mungkin memilih yang kedua.
2.7
Keterkaitan
Antara Motivasi Dengan Peningkatan Kerja
Motivasi merupakan akibat
dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya. Karena
itulah terdapat perbedaan kekuatan motivasi yang ditunjukkan setiap seorang
dalam menghadapi situasi tertentu. Setiap orang akan memperlihatkan sikap yang
berbeda-beda dalam menghadapi situasi yang sama. Hal itu tergantung pada
motivasi yang dimiliki oleh masing-masing individu.
Untuk meningkatkan motivasi
karyawan ini, tidak akan lepas dari peran manajer karena manajer ini yang akan
berperan secara aktif dan langsung terhadap peningkatan motivasi karyawan.
Abraham maslow menjelaskan teori motivasi dengan berdasarkan tingkat kebutuhan
karyawan. Untuk memperoleh kepuasan dalam bekerja, maka kebutuhan-kebutuhan
tersebut haruslah terpenuhi. Dari sinilah peran manajer sangatlah dibutuhkan
yakni memenuhi kebutuhan karyawan.
Frederick Herzberg
membagi teori motivasi ke dalam dua faktor yakni motivasi intrinsik dan higiene
ekstrinsik. Pada penjelasannya, faktor motivasi intrinsik inilah yang lebih
kuat pengaruhnya untuk mendorong kinerja karyawan. Karyawan secara intrinsik
akan merasa senang dengan pekerjaan mereka sehingga dapat lebih bebas untuk
berkreasi dan berinovasi. Karyawan juga dapat bekerja dengan tingkat tugas yang
tinggi dan tidak perlu diawasi dengan ketat karena telah memiliki motivasi yang
kuat untuk menyeleseikan pekerjaan secara optimal.
Dalam suatu perusahaan,
motivasi yang dimiliki setiap karyawan adalah suatu hal penting yang harus
diperhatikan. Setiap karyawan pasti memiliki motivasi yang berbeda-beda dalam
menghadapi suatu pekerjaan. Karyawan yang memiliki motivasi kuat, menganggap pekerjaan yang dihadapi mudah untuk diselesaikan. Begitu pula
sebaliknya, karyawan yang memiliki motivasi lemah akan beranggapan bahwa
pekerjaannya sulit. Bisa disimpulkan bahwa seorang karywan dengan motivasi kuat memiliki daya dorong yang kuat pula
untuk mengerahkan seluruh kemampuan,tenaga, dan waktunya dalam menghadapi suatu
pekerjaan. Sebaliknya, yang bermotivasi lemah tidak memiliki daya dorong
sehingga tidak bisa memaksimalkan kemampuan mereka dalam menghadapi pekerjaan.
Dari ilutrasi diatas bisa
disimpulkan bahwa motivasi sangatlah penting dan erat hubungannya dengan
peningkatan kinerja setiap karyawan. Motivasi merupakan salah satu faktor
penting dalam mendorong seorang karyawan untuk bekerja. Motivasi adalah
kesediaan individu untuk mengeluarkan upaya yang tinggi untuk mencapai tujuan
organisasi (Stephen P. Robbins, 2001). Ada tiga elemen kunci dalam motivasi
yaitu upaya, tujuan organisasi dan kebutuhan. Upaya merupakan ukuran
intensitas. Bila seseorang termotivasi maka orang tersebut akan berupaya sekuat
tenaga untuk mencapai tujuan, namun belum tentu upaya yang tinggi akan
menghasilkan kinerja yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan intensitas dan
kualitas dari upaya tersebut serta difokuskan pada tujuan organisasi. Kebutuhan
adalah kondisi internal yang menimbulkan dorongan, dimana kebutuhan yang tidak
terpuaskan akan menimbulkan tegangan yang merangsang dorongan dari dalam diri
individu. Dorongan ini menimbulkan perilaku pencarian untuk menemukan tujuan,
tertentu. Apabila ternyata terjadi pemenuhan kebutuhan, maka akan terjadi
pengurangan tegangan. Pada dasarnya, karyawan yang termotivasi berada dalam
kondisi tegang dan berupaya mengurangi ketegangan dengan mengeluarkan upaya.
BAB
III
KESIMPULAN
Kinerja
adalah suatu hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang
atau kelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan
tanggungjawab masing-masing, dalam rangka mencapai tujuan organisasi.Sedangkan
produktivitas adalah hubungan perbandingan antara output (hasil yang diproduksi) dengan input (masukan / keseluruhan sumber daya) yang digunakan. Dengan
demikian produktivitas merupakan salah satu komponen yang harus dimiliki oleh
setiap perusahaan untuk mencapai tujuan organisasi dan meningkatkan efisensi.
Faktor
– faktor yang mempengaruhi kinerja adalah faktor individu, lingkungan kerja, dan
faktor motivasi. Sedangkan faktor – faktor yang mempengaruhi produktivitas
adalahberhubungan dengan tenaga kerja itu sendiri maupun faktor lain, seperti
tingkat pendidikan, keterampilan, disiplin, sikap dan etika kerja, motivasi,
gizi dan kesehatan, tingkat penghasila, jaminan sosial, lingkungan kerja, iklim
kerja, teknologi, sarana produksi, manajemen, dan prestasi (Ravianto, 1991).
Berdasarkan pengertian
kinerja dan produktivitas tersebut, dapat disimpulkan bahwa kinerja merupakan
perbandingan antara hasil kerja (output)
dengan periode (waktu), sedangkan produktivitas adalah perbandingan antara
hasil kerja (output) dengan sumber daya yang digunakan (input). Jadi, perbedaan kinerja dengan produktivitas terletak pada
denominator perbandingannya. Denominator dari kinerja adalah waktu yang
dibutuhkan, sedangkan denominator dari produktivitas adalah sumber daya yang
digunakan (input).
Motivasi merupakan respon
seseorang terhadap sejumlah pernyataan mengenai keseluruhan usaha yang timbul
dari dalam diri orang tersebut agar tumbuh dorongan untuk bekerja dan tujuan
yang dikehendaki oleh mereka bisa tercapai.Peran motivasi sebenarnya dapat dianalogikan sebagai
bahan bakar untuk penggerak mesin motivasi. Dengan begitu mesin motivasi akan
bekerja terus sampai tujuan tercapai dengan baik. Elemen dalam motivasi yaitu
arah perilaku, tingkat usaha dan tingkat kegigihan. Selain itu
terdapat juga teori – teori motivasi yaitu Teori Hirarki Kebutuhan, Teori
Motivasi Herzberg, Teori Motivasi Mcclelland dan Teori X dan Y. Menurut
jenisnya motivasi dibagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan morivasi
ekstrinsik.
Terdapat upaya – upaya yang dapat
meningkatkan motivasi yaitu melalui training,
memberikan penghargaan kepada karyawan yang berprestasi, memenuhi kebutuhan
fisiologis dan rasa aman, meningkatkan hubungan sosial, mengikutsertakan
keputusan dalam kebijakan organisasi, mendelegasikan tugas – tugas penting,
menentukan jenjang karier yang transparan, dan menciptakan iklim aktualisasi
diri.
Motivasi
sangatlah penting dan erat hubungannya dengan peningkatan kinerja setiap
karyawan.Motivasi merupakan salah satu faktor penting dalam mendorong seorang
karyawan untuk bekerja. Namun intensitas dan kualitas dari motivasi tersebut
juga harus terfokus pada tujuan organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Hariandja,
Marihot Tua Efendi. 2002. Manajemen
Sumber Daya Manusia : Pengadaan, Pengembangan, Pengkompensasian, dan
Peningkatan Produktivitas Pegawai. Jakarta : Grasindo.
Gellerman,
Saul W. 1984. Motivasi Dan Produktivitas.
Jakarta : PT Pustaka Binaman Pressindo.
Siagian, Sondang P. 1989. Teori Motivasi Dan Aplikasinya. Jakarta
: Bina Aksara.
López-Ortega,
Eugenio dan Rita Saloma-Velazquez. 2000. A
Worker Productivity Model. Mexico: Institute of Engineering. National
University of Mexico.
Purnami,
Ratna. 2012. Manajemen Pengantar Bisnis. Artikel
Cara Meningkatkan Motivasi Kerja Karyawan. Diakses pada 04 Maret 2013. <http://ratnapurnami.students.perbanas.ac.id/2012/12/02/artikel-cara-meningkatkan-motivasi-kerja-karyawan/>.
Affandi.
2012. Menemukan Cara Meningkatkan
Motivasi. Diakses pada 04 Maret 2013. <http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2012/12/28/menemukan-cara-meningkatkan-motivasi-514546.html>
.
Yusuf,
Adie E. 2008. Pengaruh Motivasi Terhadap
Peningkatan Kinerja. Diakses pada 04 Maret 2013. <http://teknologikinerja.wordpress.com/2008/05/06/pengaruh-motivasi-terhadap-peningkatan-kinerja/>
.
Pengertian Kinerja Menurut Para Ahli, Definisi Karyawan,
Pegawai, Teori, Pengukuran, Penilaian. 2012. Diakses pada 06 Maret 2013. <http://www.sarjanaku.com/2012/06/pengertian-kinerja-definisi-teori.html>.
Pengertian Kinerja.
2011. Diakses pada 06 Maret 2013. <http://skripsi-manajemen.blogspot.com/2011/02/pengertian-kinerja.html>.
Pengertian Motivasi dan Teori –
Teori Motivasi.
2012. Diakses pada 06 Maret 2013. <http://tkampus.blogspot.com/2012/04/pengertian-motivasi-dan-teori-teori.html>.
Pengertian
Motivasi Menurut Para Ahli, Tujuan, Jenis Motivasi. 2012. Diakses
pada 06 Maret 2013. <http://www.sarjanaku.com/2012/04/pengertian-motivasi-menurut-para-ahli.html>.
Kamriantiramli.
2011. Fungsi dan Tujuan Motivasi.
Diakses pada 06 Maret 2013. <http://kamriantiramli.wordpress.com/2011/05/27/fungsi-dan-tujuan-motivasi/>.
Strategi
Meningkatkan Produktivitas. Diakses pada 07 Maret 2013. <http://www.cilacapedu.com/psychology-of-achievement/strategi-meningkatkan-produktivitas/>
Thesis Tentang Kajian Kinerja. Diakses
pada 7 maret 2013. <www.pps.unud.ac.id/thesis/pdf.../unud-403-aderito2>
Artikel Kinerja (Faktor-Faktor yang mempengaruhi kinerja). Diakses pada 8 Maret 2013. <www.scribd.com/doc/54977649/7/Faktor-faktor-yang-Mempengaruhi-Kinerja>.
Firmansyah,M
Anang. Diakses pada 13 Maret 2013.<https://anangfirmansyahblog.files.wordpress.com/2012
/05/teori-douglas-mc gregor.pdf>
Arrizal.Diakses
pada 9 Maret 2013. <http://jurnal.unitas-pdg.ac.id/files/31/Jurnal..pdf>
Azizi & Nurul.
Diakses 6 Matet 2013. <http://eprints.utm.my/10385/3/TEORI-TEORI_MOTIVASI.pdf>
Universitas
Sumatra Utara. Diakses 6 Maret
2013.<http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23727/4/Chapter%20II.pdf>
Universitas
Sumatra Utara. Diakses 9 Maret 2013.
<http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25947/4/Chapter%20II.pdf>
Universitas Sumatra
Utara. Diakses 9 Maret 2013.
<http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24042/4/Chapter%20II.pdf>
Nugroho,Rino A.
Diakses Pada 6 Maret 2012.
<http://rinoan.staff.uns.ac.id/files/2009/06/kuliah-78-motivasi.pdf>
Teori Abraham Maslow.
Diakses pada 6 Maret 2013. <http://wardalisa.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/26402/Materi+07++TeoriAbrahamMaslow.pdf>
Universitas Sumatra
Utara. Diakses 6 Maret2013. <http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28780/4/Chapter%20II.pdf>
Hendry.2010. Teori Kinerja. Diakses pada 13 Maret 2013. <teorionline.wordpress.com/2010/01/25/teori-kinerja/>.
Yustiono,
Eris. 2011. Kinerja dan Penilaian Kinerja. Diakses pada 13 Maret 2013. <stialanbandung.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=298:kinerja-dan-penilaian-kinerja&catid=12:artikel&Itemid=85>.
Suharsaputra, Uhar. Pengembangan Kinerja
Guru. Diakses pada 13 Maret 2013. <http://uharsputra.wordpress.com/pendidikan/pengembangan-kinerja-guru/>.
Trimartono.
Kinerja. Diakses pada 13 Maret 2013. <http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/487/jbptunikompp-gdl-trimartono-24331-2-babii_d-x.pdf>.
Evilyn, Rika.
2009. Meningkatkan Kinerja Karyawan.Diakses pada 13 Maret 2013.<http://rikaevilyn.blog.ugm.ac.id/about/meningkatkan-kinerja-karyawan/>
LAMPIRAN
Pertanyaan
Sesi Pertama
1. Agni
Amurbatami Manggali (101111026)
Pada
halaman 20 level yang mempengaruhi produktivitas, apakah setuju?
Apakah
bisa level 3 mempengaruhi level 1?
Apa
beda morality di level safety dan self-actualization pada Teori Maslow?
Jawab
:
Pada
4 level yang mempengaruhi produktivitas tersebut merupakan salah satu pendapat
tentang faktor – faktor yang mempengaruhi produktivitas. Menurut kelompok kami,
anatara level satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi satu sama lain.
Empat
level yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja model Eugenio Lopez – Ortega
and Saloma – Velazquez adalah faktor individu atau personal, faktor tim kerja,
faktor teknologi dan faktor organisasi. Faktor yang paling dekat mempengaruhi
produktivitas adalah faktor individu, akan berkembang dan bagus jika didukung
oleh faktor lain.
Pada pendapat Maslow
tentang Teori Kebutuhan memiliki kekurangan dan banyak yang dikritik. Morality
pada Teori Hirarki Kebutuhan Maslow :
Level safety à
keamanan dalam bentuk moral
Level
self – actualization à perkembangan moral
2. Adelia
Ratri Mahenda (101111005)
Kapan
kinerja dikatakan baik? Kapan motivasi kerja diberikan?
Jawab
:
·
Outcome sesuai rencana
·
Tergantung standar
·
Setelah melakukan
pengukuran
·
Ketika kinerja /
produktivitas menurun dan saat perlu untuk ditingkatkan. Jika sudah baik harus
terus menerus di motivasi
Rumah
Sakit A memiliki 5 dokter dan menangani 10 pasien à
= 2
Rumah
Sakit B memiliki 3 dokter dan menangani 9 pasien à
= 3
Jadi,
dengan jumlah pasien yang lebih banyak belum tentu dikatakan memiliki
produktivitas yang lebih tinggi, tergantung standar yang ditetapkan.
Aspek
yang dinilai dalam kinerja : hasil dan proses.
3. Trio
Linda Familia (101111097)
Bagaimana
cara perusahaan jika produktivitas terganggu oleh masalah pribadi?
Jawab
:
Jika
tenaga kerja mengalami stress maka upaya yang mungkin dilakukan perusahaan
salah satunya adalah melakukan kegiatan senam. Dan jika antara karyawan satu
dengan yang lain menikah, salah satunya harus dipindah cabangkan agar tidak
mengganggu kerja dari masing – masing.
Selain
itu, juga harus dilihat faktor pada individu di bagian mana yang terganggu dan
penanganan sesuai dengan faktor – faktor yang terganggu.
Pertanyaan
Sesi Kedua
1. Stevie
Yonara (101111034)
Bagaimana budaya organisasi yang
menghargai individu dan tidak hanya menghargai kerja tim?
Jawab :
Dalam hal ini yang dilakukan adalah
melakukan pengukuran atau penilaian kinerja / produktivitas individu. Setelah
diketahui hasilnya mungkin yang memiliki hasil yang baik diberikan reward atau
penghargaan. Untuk yang hasilnya belum cukup baik, perusahaan harus terus
menerus memotivasi dan melakukan pengembangan dan pelatihan.
Pengukuran atau penilaian kinerja / produktivitas
dibagi menjadi 2 yaitu secara individu dan kelompok / tim.